Gerakan Baru Mahasiswa

Gerakan Baru Mahasiswa
Oleh Agus Suwignyo

Seolah antitesis keberhasilan monumental menggulingkan rezim Orde Baru satu dekade lalu, akhir-akhir ini mahasiswa Indonesia menampilkan perilaku agresif dalam bentuk tawuran.

Dari Padang hingga Kupang, di Jakarta, di Makassar, di Jawa Timur, juga di Ternate, mahasiswa terlibat tawuran dengan kolega antarfakultas maupun antarinstitusi perguruan tinggi.
Laporan Kompas dan media elektronik, dalam satu hari (17/11) terjadi tiga tawuran mahasiswa di Makassar dan Kupang. Di Makassar, tawuran terjadi antara mahasiswa dan rombongan masyarakat yang hendak memakamkan jenazah!

Momentum refleksi

Kini, sedemikian jauhkah alam pikir dan perilaku mahasiswa dari kalbu kerakyatan?

Sebagai peristiwa kekerasan publik, insiden perkelahian mahasiswa di berbagai daerah harus diusut kasus per kasus untuk membuktikan ada-tidaknya unsur pidana.

Meski demikian, aneka kekerasan itu tidak dapat dianggap (dan sebaiknya tidak dicitrakan sebagai) mewakili profil seluruh gerakan mahasiswa pascareformasi.

Maraknya tawuran justru perlu ditangkap sebagai momentum refleksi arah baru gerakan mahasiswa pascareformasi 1998. Dalam konteks ini, pembacaan ulang makna gerakan dalam proses demokrasi di Indonesia merupakan hal krusial mengingat perubahan zeitgeist perjuangan.

”Musuh bersama”

Sejumlah elemen mahasiswa di Yogyakarta menyadari terjadinya disorientasi gerakan pascareformasi. Penyebabnya, ketiadaan ”musuh bersama”.

Setelah Soeharto ditumbangkan, rezim kekuasaan dengan wajah garang dan opresif praktis lenyap. Kebebasan berpendapat memungkinkan unsur-unsur masyarakat menyuarakan aspirasi.

Akibatnya, gerakan mahasiswa berbentuk aksi-aksi massa, misalnya demonstrasi jalanan, bukan lagi khas mahasiswa, seperti sebelum 1998. Sekarang, kelompok mana pun turun ke jalan berdemonstrasi memperjuangkan kepentingan masing-masing.

Tetapi, benarkah disorientasi gerakan mahasiswa karena telah bertumbangnya ”musuh bersama”? ”Musuh” dalam arti apa?

Harus diakui bahwa betapapun dilawan, rezim-rezim kekuasaan totaliter turut membesarkan aktivis prodemokrasi. Seperti yang sekarang kita saksikan di Myanmar, gerakan pemuda dan mahasiswa Indonesia tumbuh akibat tekanan-tekanan makropolitik.

Selain itu, ada kasus-kasus pada masa Soeharto ketika represi dan penindasan rezim justru menciptakan peluang untuk memperoleh dana bantuan luar negeri. Akibatnya, setelah Orde Baru ambruk, tamat pulalah misi (dan peluang ekonomi) gerakan.

Namun, pandangan perlunya ”musuh bersama” secara hakiki mengaburkan sifat otentik gerakan. Jangan-jangan, tanpa represi politik ala Soeharto, tanpa kekuasaan hegemonik model Soekarno, atau tanpa kekangan diktatorial fasis maupun kolonial, gerakan mahasiswa Indonesia malah tidak berdaya.

Tiga masalah

Pada hemat saya, ada tiga penyebab mandeknya gerakan mahasiswa.

Pertama, terputusnya komunikasi sistemik antara generasi pasca-1998 dan seniornya, khususnya Angkatan 1998. Kaderisasi aktivis berlangsung sporadis dan umumnya intrakampus. Yang menggelitik, pasca-1998 kiprah organisasi mahasiswa ekstra kampus (HMI, PMKRI, GMNI, PMII) nyaris tak terdengar.

Kedua, terjadi perubahan minat. Patut dipertanyakan, sejauh mana kemudahan akses informasi melalui ponsel dan internet dengan area hotspot di kampus-kampus mendorong terbentuknya jaringan komunitas yang menjadikan idealisme kerakyatan sebagai basis gerakan.

Ketiga, adanya pandangan bahwa ”musuh bersama” gerakan mahasiswa harus berbentuk rezim politik. Adalah keberuntungan sejarah bahwa akibat tekanan rezim politik, generasi 1908 hingga 1998 melahirkan monumen-monumen besar perjuangan mahasiswa.

Namun, setiap zaman melahirkan aktivis melalui pemaknaan zeitgeist (jiwa zaman). Pasca-1998, gizi buruk, jeleknya layanan kesehatan dan fasilitas pendidikan, bahaya korupsi, tingginya pengangguran terdidik, dan aneka persoalan lingkungan tetap merupakan tantangan yang layak dijadikan ”musuh bersama” gerakan mahasiswa.

Sayang, harus diakui, mahasiswa pasca-1998 secara umum gagal membaca dan memaknai fenomena-fenomena sosial tersebut sebagai zeitgeist yang melingkupi perubahan politik menyusul kejatuhan Soeharto.

Harapan baru

Meski demikian, aksi mahasiswa di sejumlah tempat mengindikasikan harapan baru gerakan pasca-1998.

Beberapa waktu lalu, media massa memberitakan keberhasilan kelompok-kelompok mahasiswa teknik di Surabaya mendesain robot. Di Jakarta, mahasiswa menyuarakan kepedulian terhadap bahaya asap rokok.

Di Sleman, mahasiswa kedokteran menghimpun dana untuk penanaman sejuta pohon. Mahasiswa sejarah melakukan pendampingan masyarakat Kulonprogo untuk menulis sendiri sejarah desanya.

Daftar aksi masih bisa diperpanjang, tetapi intinya, pasca-1998 sasaran gerakan mahasiswa bukan lagi rezim politik kekuasaan an sich.

Tantangan gerakan mahasiswa pasca-1998 adalah perwujudan civil society pada aras akar rumput melalui penguatan kesadaran identitas dan peran sosial kemanusiaan.

Jelaslah, tawuran tidak termasuk di dalamnya!

Agus Suwignyo

Pedagog FIB UGM; Sedang Meneliti Sejarah Pendidikan Guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: