Bayi

Bayi
Butet Kartaredjasa

Natal selalu menaburkan aneka ikon visual: pohon cemara, kandang domba, bayi, atau bintang gemintang. Orang bebas memilih gambar apa pun menandai memperingatinya. Di Indonesia yang berancang-ancang masuk pesta demokrasi 2009, kira-kira gambar apa yang cocok untuk Natal kali ini?
Itu tanya dalam hati seorang politisi yang doyan beriklan.

Sebagai caleg ambisius nan cerdik, pasti ngebet menunggangi aktualitas Natal untuk dagang diri. Gunakan peluang dan kesempatan. Apalagi, Natal, kan, pestanya kaum beragama? Cocok banget untuk membangun citra diri sebagai caleg agamis.

Ini penting. Konstituen politik demen dikecoh citra begituan. Penggembira ikhlas dikibuli para priayi yang terkesan agamis. Praktiknya, hidup lamis. Dari cara pikir ini, minimal Natal bisa dijadikan magnet menyerobot pengaruh, merebut empati yang merayakan Maulid Nabi Isa itu.

Tetapi mesti pakai gambar apa? Ikon-ikon Natal kayaknya kurang ”molitik”. Cemara? Apa cocok, mengingat gambar pohon dalam wacana politik Indonesia berdaun rimbun bersulur-sulur menjurai? Gambar domba? Salah-salah disangka jual sate kambing. Lagian, yang sering tampak sebagai domba Natal, kan, bermoncong hitam. Bukan putih. Atau, coba gambar bintang? Wuaalah…, bisa-bisa salah kaprah karena telanjur lengket merek dagang bir lokal atau logo partai tertentu.

Paling klop, mungkin pakai gambar bayi. Citraan visual orok manusia, relatif steril. Unik dan menggemaskan. Belum terkontaminasi praktik politik yang jorok. Kalau, toh, ada yang tergelincir menginterpretasikan, paling disangka nawarin minyak telon, susu bubuk, atau popok. Tapi kekeliruan tafsir seperti ini termaafkan dengan jurus kilah khas tim sukses: minyak telon menghangatkan badan, susu bubuk demi pertumbuhan, dan popok melindungi yang paling vital.

Politisi memang kaya argumen. Selain belum ada partai peserta Pemilu 2009 ber-ikon bayi, makna filosofi bayi bisa didramatisir. Bisa mencatut bayi Yesus di palungan sebagai simbol harapan baru. Isyarat pembebasan. Bisa juga bicara keniscayaan bergantinya generasi. Jitu untuk meniupkan isu, misal perlunya pemimpin muda. Tua ganti muda.

Sialnya, nuansa Natal kadang getir. Yang beginian pasti kurang afdol untuk dagangan politik. Tak indah. Terhina dan tertolak. Natal jadi gelap. Bayi Natal akan diartikan awal penderitaan panjang melelahkan. Prolog dari lakon pembebasan. Si Bayi baru berhasil menyalakan harapan setelah digempur banyak kesulitan. Hakikat Natal yang gelap, mengingatkan pencapaian terbaik tak lewat proses instan. Ada rentang waktu meletihkan yang harus dilakoni. Tak seru untuk kibul-kibulan.

Untungnya, Natal selalu memberikan jutaan kemungkinan. Siapa pun bebas kasih penafsiran, termasuk seumpama berikhtiar memperdagangkannya secara politik. Karena itulah: Selamat berdagang bayi!

Senin, 22 Desember 2008

Butet Kartaredjasa
Aktor alias Pengecer Jasa Akting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: