Musdah Mulia: Saya Tidak Ingin Apa-apa

Musdah Mulia: Saya Tidak Ingin Apa-apa
Ninuk Mardiana Pambudy/ Maria Hartiningsih

musdah-muliaKetika penghargaan Yap Thiam Hien diserahkan pada Rabu (10/12) malam lalu, Prof Dr Siti Musdah Mulia, MA sebagai penerima masih berada di Tanah Suci untuk ibadah haji.

Penggagas penghargaan tersebut, Todung Mulya Lubis, dalam sambutannya mengatakan, Musdah adalah sosok yang ”mau dan berani bersuara”, yang menjadikan Islam sebagai komunitas yang teduh, dialogis, dan inklusif.
”Untuk saya, hakikat penghargaan ini adalah untuk semua yang selama ini telah membangun komitmen untuk orang-orang yang terdiskriminasi dan termarjinalkan. Ini sekaligus mengingatkan untuk selalu bekerja bersama,” kata Musdah, Rabu (17/12) siang di kantornya di Indonesian Conference on Religion and Peace di kawasan Cempaka Putih, Jakarta.

Sebagai pemikir Islam dan aktivis sosial, Musdah selalu menggunakan cara berpikir kritis dan rasional dalam melihat berbagai persoalan, terutama ancaman terhadap keberagaman Indonesia. Dia juga gigih memperjuangkan keadilan dan kesetaraan jender, membela hak-hak kelompok minoritas, dan melakukan dialog antaragama.

Akibat kelantangannya, dia kerap ditegur petinggi di Departemen Agama, dikecam rekannya sesama dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan beberapa tokoh masyarakat ”menasihati” supaya dia tidak terlalu lantang karena masih muda dan kariernya masih panjang.

Karena keberaniannya menyuarakan pendapat itu, dia sering mendapat pesan singkat SMS dan berbagai cap.

”Ketika membicarakan homoseksual dalam Islam, ada yang menyebut saya lesbian. Kalaupun lesbian, selama tidak melakukan kekejian, tidak mengotori, tidak menipu, kan tidak apa-apa. Orientasi seksual adalah terberi,” kata ibu dua putra dari pernikahannya dengan Prof Dr Ahmad Thib Raya, MA, pengajar di UIN Syarif Hidayatullah.

”Saya sudah tidak menginginkan apa-apa. Hidup saya hanya untuk kemanusiaan. Saya selalu minta kepada Tuhan supaya hidup saya tidak usah lama-lama, kalau bisa sampai 70 tahun saja, daripada hidup menderita,” papar Musdah yang baru Senin (15/12) malam lalu sampai di rumah kembali.

Karunia tersembunyi

Anda konsisten menyuarakan dan mempraktikkan pandangan Anda dalam kehidupan?

Tidak tahu ya…. Saya malah ingin menangis…. Soalnya beberapa tahun terakhir saya mengalami banyak sekali cobaan.

Saya diberhentikan dari posisi di Departemen Agama. Dikecam dosen-dosen di UIN Syarif Hidayatullah. Diteror dan diberi berbagai cap. Semua karena pemikiran saya. Termasuk penolakan saya kepada Undang-Undang Pornografi.

Meskipun saya kerap dicecar orang, tetapi tetap ada kesempatan di mana saya bisa muncul dan berbicara. Saya sering diundang dalam pertemuan di luar negeri. Saya punya kesempatan berbicara lagi, bersemangat lagi.

Melihat orang begitu menghargai saya, saya merasa masih ada orang yang tidak membenci saya. Saya sering tidak mengerti keadilan Tuhan.

Tentang counter legal draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam yang Anda susun bersama tim di Depag tahun 2004?

Sebetulnya itu adalah penugasan dari Departemen Agama. Posisi saya sebagai Koordinator Tim Pengarusutamaan Jender Departemen Agama yang punya surat pengangkatan dari Menteri Agama.

Ketika muncul reaksi keras dari sebagian anggota masyarakat terhadap draf itu, saya sendirian menghadapi kelompok-kelompok yang memprotes meskipun sebetulnya pengkajian itu tugas institusi.

Ternyata ada blessing in disguise (karunia tersembunyi). Saya menjadi dikenal luas, walaupun saya sama sekali tidak punya pikiran menjadi terkenal.

CLD itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis, dan Belanda. Dalam pertemuan para feminis sedunia di Barcelona, Spanyol, orang terperangah karena dalam draf itu banyak hal baru dan aspeknya luas.

Dari kejadian itu saya belajar orang harus bertanggung jawab, punya komitmen, pada yang dia lakukan. Tidak rugi punya prinsip dalam hidup. Tuhan tidak buta.

Dari mana keberanian Anda?

Saya sadar betul yang saya lakukan bukan untuk mendapatkan sesuatu.

Saya meyakini Islam sebagai nilai yang begitu luhur, tetapi mengapa tidak fungsional dalam kehidupan umatnya. Islam hanya berhenti sebagai ritual, simbolik. Sayang sekali karena seharusnya nilai-nilai yang begitu luhur dapat membangun kehidupan yang lebih adil, lebih egaliter, lebih demokratis.

Dukungan keluarga

Musdah menyebut, dukungan keluarga, dari suami dan anak-anaknya, dari ayah dan ibunya serta bapak dan ibu mertuanya, sangat penting.

Ibunya juga sering mendapat teror, seperti ketika Musdah membicarakan homoseksualitas serta menolak kekerasan terhadap penganut Ahmadiyah.

”Ibu saya sampai mengatakan, dia mau bersaksi siapa saya yang dia kenal benar,” kata Musdah

Suaminya, Ahmad Thib Raya yang ahli tafsir, menurut Musdah, mengakui bahwa dia tidak setegar istrinya dalam menghadapi kecaman orang.

”Suami saya bilang, kalau saya dibilang orang seperti orang- orang itu menyebut tentang kamu, pasti saya tidak bisa tidur.”

Musdah tidak mau mengeluh apa pun kepada siapa pun. ”Saya khawatir kalau mengeluh nanti dibilang berhenti saja.”

Meskipun begitu, Musdah mengaku tidak kehilangan kekonservatifannya karena dia besar dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama.

Dia tetap menghargai orang di pesantren yang konservatif karena, menurut Musdah, mereka tidak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan dan punya pengalaman luas seperti dia. Termasuk pengalamannya dengan jilbab ketika tahun 1994 terbang dari Madinah ke Kairo.

Di pesawat semua perempuan asli Madinah menutup rapat tubuhnya dengan burka. ”Waktu kami berhenti di Jeddah, sebagian dari burka dibuka. Begitu sampai Kairo semua penutup dibuka. Cara mereka berpakaian lebih dari orang Barat. Waktu saya tanya, mereka bilang, burka adalah bagian dari budaya yang tidak diperlukan di Kairo.”

Musdah juga pernah menjabat Ketua Divisi Pengkajian Majelis Ulama Indonesia (2000-2005). ”Sebelum dan sesudah saya belum ada lagi perempuan yang menduduki posisi itu.”

Setiap minggu divisinya selalu menerima surat laporan dari masyarakat tentang kelompok yang meresahkan. ”Kami turunkan tim ke lapangan untuk mengecek dan biasanya laporan itu hanya karena kecemburuan ketika ada kelompok yang tiba-tiba terkenal, punya banyak pengikut,” kata Musdah.

Menurut Musdah, hal tersebut menunjukkan bahwa dalam agama apa pun selalu muncul aliran-aliran baru yang memperlihatkan orang tidak terpuaskan secara spiritual dengan keberagamaan yang formal.

”Buat saya, manusia secara spiritual sering merasa tidak puas. Kita masing-masing lalu menciptakan cara kita sendiri dalam beribadah menghadap Tuhan, dengan menambah bacaan, misalnya.

”Apa kita boleh marah kepada orang yang tidak puas secara spiritual? Kalau dia tidak mengurangi atau menambah ajaran yang ada, apa tidak boleh? Itu kan sama dengan kita meracik makanan kita memakai bumbu yang sesuai kebutuhan kita,” kata Musdah.

Tiga persoalan dan solusi

Konservatisme dalam beragama menjadi kecenderungan pada berbagai agama dan di mana-mana?

Tiga faktor penyebabnya. Pertama, kekuatan global di mana kebijakan Amerika sangat timpang terhadap negara-negara Muslim sehingga menimbulkan kebencian.

Kedua, kegagalan pemerintahan sekuler menyejahterakan rakyat sehingga muncul alasan menggantikan negara sekuler dengan negara teokrasi.

Ketiga, pengaruh demokrasi. Dulu kelompok seperti ini tidak punya suara di Indonesia. Sekarang, dengan memakai jalur demokrasi mereka punya cara legal mengutarakan pikiran. Mereka memakai istilah demokrasi prosedural yang sebetulnya melanggar konstitusi karena demokrasi digunakan sebagai mekanisme yang hakikat dan tujuan akhirnya bukan demokrasi itu sendiri, tetapi teokrasi.

Mengapa ingin memisahkan agama dan negara?

Setiap kita bicara agama pasti ujungnya adalah interpretasi. Kalau negara memakai ideologi agama, lalu interpretasi siapa yang akan kita pakai? Setiap orang akan mempertahankan interpretasinya. Tercabik-cabiklah negara kita. Padahal, negara kita amat beragam.

Bagaimana mempertahankan keberagaman Indonesia?

Kalau membaca buku pemikiran Haji Agus Salim mengenai pilihan Indonesia bukan sebagai negara agama, alasannya adalah problem seperti tadi. Lebih enak memakai Pancasila karena konkret sekali.

Saya tetap optimistis kalau kelompok cendekiawan, akademisi, mau berpikir kritis dan menghibahkan sedikit dari dirinya untuk menjaga keberagaman Indonesia, saya optimistis Indonesia yang kita pertahankan.

Tentang Musdah Mulia
Nama: Prof Dr Musdah Mulia, MA
Tempat dan tanggal lahir: Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1959
Keluarga: Suami: Prof Dr Ahmad Thib Raya MA. Anak-anak: Albar (19) dan Ilham (17).

Pendidikan: SD di Surabaya (tamat 1969); Pesantren As'adiyah, Sengkang (1973); SMA Datumuseng, Makassar (1974); S-1 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab, IAIN Alaudin, Makassar (1982); S-2 bidang Sejarah Pemikiran Islam, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1992); S-3 bidang Pemikiran Politik Islam IAIN Syarif Hidayatullah (1997).

Pekerjaan: Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah (1997-sekarang); ”visiting professor” di EHESS Paris, Perancis (2006); staf ahli Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia Bidang Pencegahan Diskriminasi dan Perlindungan Minoritas (2000-2001); tim ahli Menteri Tenaga Kerja (2000-2001); staf ahli Menteri Agama Bidang Pembinaan Hubungan Organisasi Keagamaan Internasional (2001-2007).

Buku: Antara lain ”Perempuan dan Politik” (Gramedia, 2005), ”Muslimah Reformis: Perempuan Pembaru Keagamaan” (Mizan, 2005), ”Islam and Violence Against Women” (LKAJ, 2006), ”Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender” (Kibar, 2007), ”Poligami: Budaya Bisu yang Merendahkan Martabat Perempuan” (Kibar, 2007).

Musdah Mulia : Membangun Jembatan

Siti Musdah Mulia (50) dikenal sebagai salah satu feminis Muslim terkemuka di Asia. Ahli Peneliti Utama itu terus mengkaji teks literatur Islam secara kritis untuk menghapuskan ketimpangan jender dalam ajaran pokok Islam. Itulah salah satu caranya memperjuangkan kesetaraan dan keadilan antarsesama manusia dan sesama ciptaan-Nya. Buku-buku karyanya terus bermunculan.

Musdah dikenal sebagai tokoh perdamaian dan nirkekerasan yang secara konsisten membangun jembatan antariman, keyakinan, dan budaya di Indonesia dan memiliki komitmen kuat pada kemanusiaan tak bersekat. Ia termasuk satu dari sedikit tokoh yang berani membela agama-agama lokal dan mereka yang dituduh menghina agama resmi.

Kerja besar itu bukan tak menuai kontroversi. Dia menjadi sasaran terdepan dari mereka yang memiliki motif politik tertentu. Namun, Musdah tak mau ditundukkan rasa takut. Bagi dia, membela keberagaman Indonesia seharusnya dilakukan oleh setiap warga negara yang memahami sejarah negeri ini.

Dia juga berani membela korban yang secara politik terus mengalami stigmatisasi karena pernah mengalami situasi yang sama ketika ayahnya menjadi anggota DI/TII. ”Dalam politik selalu ada yang harus dirugikan,” katanya.

Terus berproses

Dilahirkan sebagai anak kedua dari enam bersaudara, Musdah kecil bercita-cita menjadi dokter. ”Tetapi, mana mungkin karena sejak kecil saya harus belajar agama di madrasah,” kenangnya.

Kakek dan neneknya sangat tradisional. Ia sempat dilarang ikut MTQ setelah kelas IV SD, karena kata kakeknya, perempuan itu suaranya aurat. Ia dilarang ikut lomba baca puisi Arab waktu kuliah di Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab dengan alasan sama. Setelah lulus kuliah, ia dilarang bekerja di BKKBN yang dikatakan kakeknya sebagai lembaga sekuler.

Neneknya melarangnya tertawa keras. ”Katanya, suara tawa perempuan mengundang setan,” kenang Musdah. ”Nenek juga melarang makan beberapa jenis ikan yang mengandung hormon tinggi supaya tidak genit,” kenang ibu dari dua anak itu.

Sejak berusia 14 tahun, setiap malam ia harus mengenakan setagen 2 meter supaya pinggangnya tetap kecil. Karena khawatir tingginya menjulang seperti tiang listrik, setiap Jumat malam sang nenek menyuruhnya menjinjing lesung mengelilingi rumah tujuh kali sambil membaca selawat. Neneknya menunggu di depan rumah.

Sang nenek ini mengirim ibunya ke pesantren tradisional di kota. ”Ibu saya adalah perempuan pertama yang keluar dari desa. Nenek tak peduli kata tetangga,” kenang Musdah.

”Mertua saya adalah Tuan Guru dari Bima yang tidak berpoligami. Beliau sangat bijak. Ucapan dan tindakannya seirama,” ujarnya tentang ayah dari sang suami, Prof Dr Ahmad Thib Raya, MA.

Hobinya berkebun dan mendengarkan Mozart serta instrumen piano dari Richard Clayderman di kala senggang tak pernah boleh dirusak oleh suasana di luar. Ia senantiasa melindungi diri dengan keyakinannya akan kebenaran, kebahagiaan, dan cinta karena dukungan yang terus mengalir dan menguatkan, khususnya dari keluarga. (MH/NMP)

Advertisements

2 Responses to “Musdah Mulia: Saya Tidak Ingin Apa-apa”

  1. taufiq bogor Says:

    pemikiran anda berbeda dengan kebanyakan umum islam, nanti anda surganya masuk surga yang mana, sepertinya nanti anda masuk surga buatan sendiri versi kebebasan akal liar anda.

  2. sulaeman suparman Says:

    Anda hebat Bu … banyak dari pemikiran Anda yang mencerahkan. Teruslah produktif mencari solusi dari begitu banyak kebuntuan berfikir di masyarakat muslim. Do’a kami sekeluarga semoga Ibu tetap sehat dan diberkahi Allah SWT. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: