Israel, Hamas, dan Konflik di Gaza

Israel, Hamas, dan Konflik di Gaza
Broto Wardoyo

Perseteruan Hamas dengan Israel tampaknya akan tetap berlanjut. Serangan ke Gaza diakui oleh Israel sebagai upaya untuk menghancurkan basis kekuatan Hamas. Kegagalan Tzipi Livni membangun koalisi untuk menjadi perdana menteri tanpa melakukan pemilu menjadi pemicu dari konflik di Gaza saat ini. Hamas merupakan ”duri dalam daging bagi proses perdamaian”.
Posisi Hamas dalam proses perdamaian memang konsisten: Hamas menolak proses perdamaian yang dilaksanakan dalam Kerangka Oslo. Namun, apakah proses perdamaiannya yang ditolak oleh Hamas? Salah satu kesalahan yang jamak dilakukan dalam memandang Hamas adalah memahami penolakan tersebut sebagai penolakan perdamaian. Hamas menolak proses perdamaian dalam Kerangka Oslo karena proses tersebut meminggirkan keberadaannya.

Bagi Hamas, penolakan tersebut merupakan pintu masuk untuk terlibat dalam politik praktis Palestina. Dengan berkata tidak, Hamas mengingatkan Palestina, Israel, dan para pendukung proses perdamaian bahwa Palestina masih memiliki masalah internal. Masalah yang akan senantiasa hadir jika tidak terlebih dahulu diselesaikan. Dengan melibatkan diri sebagai variabel yang tidak terkontrol dalam proses perdamaian, Hamas memastikan eksistensinya.

Strategi yang dipilih Hamas memang berhasil, tetapi memiliki dampak lain yang destruktif. Eksistensi Hamas memang diakui para pemain perdamaian, tetapi Hamas dipandang sebagai spoiler (pengganggu) dalam proses perdamaian. Akibatnya, proses perdamaian bukannya memerhatikan keberadaan Hamas sebagai bagian dari pembicaraan, tetapi melihatnya sebagai faktor X yang harus dibinasakan.

Hamas ada, tetapi diusahakan untuk menjadi tidak ada. Berbagai upaya pun kemudian dilakukan untuk mengeliminasi faktor Hamas dalam proses perdamaian, mulai dari melakukan operasi pemberantasan (baik secara terbuka maupun rahasia), mematikan jaringan finansial, mengadakan gencatan senjata, hingga melibatkannya dalam politik lokal Palestina. Namun, semua upaya itu dilakukan tanpa melibatkan Hamas dalam proses perdamaian secara langsung.

Perundingan antarmusuh

Para pemain perdamaian tampaknya lupa bahwa perundingan dilakukan bukan di antara para sahabat, tetapi di antara para musuh. Jika Hamas dipandang sebagai musuh perdamaian, maka Hamas harus dilibatkan dalam pembicaraan. Dengan demikian akan bisa diketahui apakah yang sebenarnya ditakutkan oleh Hamas selama ini. Memahami ketakutan Hamas jauh lebih penting jika dibandingkan dengan memahami apa yang diinginkannya. Dengan memahami ketakutan Hamas, upaya untuk mengubah Hamas dari variabel tidak terkontrol menjadi variabel independen bagi proses perdamaian akan lebih mudah dilakukan. Dengan demikian, pilihan untuk melakukan operasi militer besar-besaran akan bisa dihindarkan.

Kesalahan pandangan tersebut menjadi salah satu akar dari pilihan kebijakan Israel untuk membombardir Gaza saat ini. Kesalahan yang dipertahankan dari pemerintahan ke pemerintahan. Kondisi ini diperburuk dengan kebiasaan menggunakan Hamas sebagai pion politik. Kebiasaan ini bukan semata dimiliki oleh Israel. AS dan bahkan Palestina sendiri sering melakukan hal yang sama dalam kadar dan kebutuhan yang berbeda.

Dalam kasus Israel, konflik dengan Hamas dipandang sebagai salah satu tema kampanye yang ideal, apalagi menjelang pemilu. Hamas diidentikkan dengan kekerasan dan kampanye dengan tema menghancurkan Hamas dipandang sebagai janji untuk menyediakan keamanan. Pola pikir ini, sekali lagi, tidaklah tepat, tetapi telanjur dipandang benar.

Dalam periode sebelum Gaza dikembalikan ke Palestina, kegiatan operasi militer bisa dilakukan dengan lebih rinci dan meminimalkan korban yang tidak perlu. Kegiatan tersebut pun dapat dikerjakan dengan tanpa terliput oleh media.

Saat ini, ketika Israel sudah tidak lagi bertanggung jawab penuh atas Gaza, operasi yang dilaksanakan tidak lagi bisa kecil dan terarah, tetapi masif dengan kemungkinan jatuhnya korban yang tidak perlu juga besar. Tambahan lagi, liputan media pun menjadi sedemikian besar karena nilai unik Gaza karena langkah tersebut bisa dipandang sebagai upaya menguasai kembali. Seminggu menjelang serangan ke Gaza, muncul perdebatan di dalam politik internal Israel mengenai bagaimana seharusnya proses perdamaian dijalankan. Solusi apa yang harus diimplementasikan dan lebih spesifik, bagaimana Hamas harus diperlakukan.

Debat terakhir muncul karena periode gencatan senjata dengan Hamas akan segera berakhir. Ketidakpastian kondisi di Palestina yang selama ini dipercaya membawa dampak ketidakstabilan dalam politik internal Israel dipandang perlu untuk segera ditangani dan pilihan untuk memanfaatkan Hamas sebagai pion pertarungan menjelang pemilu pun muncul.

Hamas bukanlah pion bagi kepentingan politik tertentu dan sudah saatnya diperlakukan sebagai pemain. Bukan lagi dipandang sebagai variabel yang harus dimusnahkan, tetapi harus diajak bicara. Bicara dengan Hamas bukanlah perkara yang mudah, tetapi harus dilakukan. Bukan hanya Israel yang harus bicara dengan Hamas, tetapi juga Palestina. Sebagai sebuah kekuatan politik, Hamas pasti bukanlah unit yang solid. Dengan demikian, upaya untuk berdamai dengan Hamas akan senantiasa terbuka.

Broto Wardoyo
Pengajar di Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI; Studi lanjut di National Chengchi University, Taiwan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: