Rudi MS, Guru Anak-anak Pemetik Teh

Rudi MS, Guru Anak-anak Pemetik Teh
Oleh Ester Lince Napitupulu

033640pPengabdian selama 27 tahun sebagai guru SD tanpa gaji dari pemerintah tak pernah membuat Rudi Manggala Saputra ingin berhenti menjadi pendidik bagi anak-anak dari keluarga pemetik teh di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keinginannya hanyalah melihat anak-anak pemetik teh yang miskin di sejumlah desa terpencil itu bisa menikmati bangku sekolah sehingga ada harapan untuk perbaikan hidup di masa depan.

Ketulusan hati Rudi (48) untuk mengabdikan diri sebagai guru bagi anak- anak pemetik teh di Kampung Cikoneng, Kampung Cibulao, Kampung Rawa Gede, dan Kampung Elce itu benar-benar teruji. Bapak tiga anak inilah yang merintis pendirian SD bagi anak-anak pemetik teh pada tahun 1982.

Dari sebuah ”sekolah” yang diselenggarakan di tempat penimbangan teh di areal perkebunan teh di Kampung Rawa Gede, Rudi berhasil membuka mata pemerintah untuk meresmikan SD itu, yang pada tahun 1996 diakui sebagai SD Negeri Cikoneng yang berlokasi di Kampung Cikoneng.

Niat baik Rudi untuk membangun sekolah ala kadarnya, sehingga anak-anak usia SD yang tidak bersekolah itu bisa membaca dan menulis, awalnya tidak didukung ketua RT setempat. Alasannya, warga tidak mampu membayar gaji guru.

Akan tetapi, Rudi yang lulusan sekolah menengah ekonomi atas (SMEA) di Pandeglang, Jabar, itu bersikukuh tetap mengajar anak-anak usia sekolah untuk membaca, menulis, dan menghitung meskipun tidak diberi imbalan. Rudi yang hobi berjalan-jalan di perkebunan teh itu merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu bagi warga setempat yang dibelit kemiskinan. Bahkan, Rudi juga secara sukarela mengajar orang-orang dewasa yang buta huruf.

”Saya bilang ke Pak RT supaya enggak usah mikirin gaji. Yang penting anak-anak mau sekolah. Lagi pula keinginan mengajar itu datang dari diri saya. Saya tidak tega melihat anak-anak di zaman Indonesia merdeka masih ada yang tidak bisa bersekolah,” ujar Rudi.

Untuk kehidupan sehari-hari, Rudi yang menderita cacat permanen di kaki kanannya akibat kecelakaan semasa remaja itu menjadi petugas parkir di kawasan Puncak. Bahkan, Rudi juga tidak malu untuk menjadi petugas WC umum di kawasan wisata itu.

Meskipun statusnya hingga saat ini hanya diakui sebagai guru sukarelawan, Rudi tidak mengeluh. Dia juga tidak iri dengan guru-guru di SD ini yang kesejahteraannya lebih baik karena sudah berstatus guru pegawai negeri sipil (PNS).

Dia pernah dijanjikan untuk diangkat sebagai guru PNS oleh pejabat setempat. Namun, janji itu hanya tinggal janji. Bahkan, dia pernah diminta uang yang cukup besar untuk bisa tembus sebagai guru PNS.

”Ketika saya sudah siapkan semua persyaratan yang diminta, pejabat itu bilang itu cuma untuk menyenangkan pejabat di provinsi yang bersimpati terhadap jasa saya. Dia bilang, saya tidak bisa diangkat dan tetap sebagai guru sukarelawan saja,” tutur Rudi.

Peristiwa itu membuat Rudi kecewa dan merobek-robek berkas yang sudah dipenuhinya dengan susah payah di hadapan pejabat tersebut.

”Saya tidak patah semangat karena tujuan saya mengabdikan diri di sini bukan untuk mengejar PNS. Saya melihat bangsa dan umat yang seharusnya bisa baca dan tulis tidak terlayani karena enggak ada yang peduli. Saya merasa terenyuhnya di situ. Ini anak-anak bangsa di negara yang merdeka. Saya rela menjadi guru tanpa digaji dan diberi tunjangan maupun tidak sebagai guru PNS,” jelas Rudi.

Guru kelas V dan VI sekaligus penjaga sekolah di SDN Cikoneng itu pasrah saja dengan statusnya yang hanya dihargai sebagai guru sukarelawan sejak 1987. Saat ini, Rudi dibayar pihak sekolah sebesar Rp 250.000 per bulan. Dia juga diberi gaji senilai Rp 327.000 per bulan oleh perusahaan teh.

Latar belakang

Rudi memang tidak memiliki latar belakang pendidikan guru. Namun, jiwanya yang menyenangi anak-anak kecil tidak rela jika generasi masa depan bangsa itu tidak menikmati pendidikan. Apalagi pemerintah mencanangkan wajib belajar 9 tahun, tetapi kenyataannya banyak anak pemetik teh yang terpaksa putus sekolah di bangku kelas IV SD karena harus membantu keluarga mencari nafkah. Banyak anak pemetik teh tidak melanjutkan ke SMP karena tidak bisa membayar uang sekolah dan biaya transportasi yang menguras kantung keluarga.

”Rezeki itu bisa datang dari mana saja. Selama ini, ada saja yang membantu. SD Cikoneng ini juga bisa seperti sekarang karena ada bantuan yang tidak terduga. Namun, saya sedih jika sarana pendidikan anak-anak miskin di kampung juga minim. Sarana di sekolah ini masih terbatas dan ruangan kelas sudah rusak,” kata Rudi.

Perhatian Rudi pada pendidikan anak-anak pemetik teh ini diakuinya juga sebagai pembuktian diri. Rudi yang cacat kakinya itu tidak ingin dipandang sebelah mata oleh orang lain.

”Saya mau membuktikan bahwa saya mampu berdiri di kaki sendiri. Saya mau memperlihatkan bahwa orang cacat seperti saya tidak hanya bisa jadi pengemis. Saya mampu memberikan sesuatu yang baik kepada orang-orang yang normal,” kata Rudi.

Di tengah kesulitan ekonomi yang dihadapinya, Rudi akan tetap memaksakan diri untuk menyekolahkan ketiga anaknya minimal jenjang pendidikan menengah. Ini dilakukan untuk memotivasi warga kampung supaya menganggap penting pendidikan. Dengan demikian, lingkaran kemiskinan sebagai pemetik teh di keempat kampung itu bisa diputus.

”Jika sudah tiba waktu pembayaran uang sekolah, saya usahakan untuk ada. Terkadang saya minta bantuan ke kenalan. Tidak apa-apa, demi memenuhi keinginan anak-anak saya yang mau belajar. Saya berharap, anak-anak saya bisa jadi contoh untuk warga di sini. Sebab, banyak anak yang tidak bisa sekolah karena kesulitan biaya serta lokasi SMP dan SMA yang sangat jauh. Jika saya yang miskin bisa menyekolahkan anak- anak setinggi-tingginya, seharusnya warga lain juga mau melakukannya,” harap Rudi.

Harapan Rudi, anak perempuannya yang kini menimba ilmu di SMK bisa selesai tanpa hambatan dan satu anak lelakinya yang tahun ini lulus SD bisa melanjutkan ke SMP.

”Saya juga berharap supaya ada yang mau membelikan saya kaki palsu yang bisa mempermudah langkah saya. Kondisi ekonomi yang terbatas membuat saya menahan lama keinginan untuk membuat kaki palsu yang baru,” kata Rudi yang sehari-hari memakai tongkat kayu ini. (MZW/ONG)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: