Politik Tanpa Wajah

Politik Tanpa Wajah
Triyono Lukmantoro

Wajah orang lain bukanlah obyek, tetapi sebuah ekspresi murni. Wajah itu memengaruhi saya sebelum saya mulai melakukan refleksi terhadapnya. Wajah itu, dalam ketelanjangannya dan ketidakberdayaannya, menyatakan: ”Jangan bunuh aku”.

Wajah yang polos dan tidak berdaya itu adalah perlawanan terhadap hasrat yang tidak lain adalah kebebasan saya. Wajah orang lain, yang memohon dan memanggil, itu adalah janda, anak yatim piatu, atau orang asing.

Begitulah Emmanuel Levinas (1906-1995) merumuskan pandangan etisnya. Hanya melalui perjumpaan wajah dengan wajah, tuntutan keadilan politis diwujudkan. Sebab, dengan menjumpai wajah orang lain, persyaratan utama komunikasi manusia terpenuhi. Bagaimana perpolitikan kita? Semesta politik kita merupakan permainan kekuasaan yang tidak sudi mengenal wajah orang lain. Yang terjadi adalah politik kita berjalan tanpa pengakuan terhadap wajah.

Ancaman makin intensifnya politik tanpa wajah dipacu kompetisi merebut kekuasaan yang dianggap paling bergengsi, yakni pemilu presiden. Terlebih saat Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan bersedia dicalonkan sebagai presiden. Tak terhindarkan, rivalitas dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kian hebat. Sejumlah agenda krusial yang seharusnya diselesaikan tepat waktu dikhawatirkan terbengkalai. Masing-masing disibukkan dengan agenda politiknya sendiri.

Simak angka-angka dramatis yang dicatat Kompas (22/2). Sebanyak 35 juta orang ada dalam kemiskinan; 27.578 buruh terkena pemutusan hubungan kerja (PHK); 24.817 orang masuk daftar tunggu PHK; 11.993 pekerja telah dirumahkan, 11.191 pekerja menunggu proses dirumahkan; dan 600.000 tenaga kerja Indonesia (TKI) terancam dipulangkan. Hal itu belum ditambah beban pekerjaan yang harus dituntaskan pemerintah, seperti Pemilu 2009, indikator pelemahan daya beli rakyat, dan pelemahan aktivitas perekonomian nasional.

Keniscayaan menggugat

Kaum miskin, ribuan penganggur, dan jutaan orang dalam keputusasaan itulah yang dimaksudkan sebagai wajah orang lain. Relasi antara elite politik yang sedang berkuasa dan jutaan orang yang tidak berdaya membuka keniscayaan untuk menggugat eksistensi dan keadilan sosial. Namun, kalangan elite politik selalu memalingkan muka, seolah-olah jutaan wajah penuh nestapa itu tidak pernah ada. Semua itu dapat terjadi akibat kaum elite politik lebih senang menerapkan karakteristik egosentrismenya.

Jika dirumuskan lebih transparan, elite politik terpesona slogan ”Aku berkuasa, maka Aku ada”. Dengan demikian, dorongan ”Aku ada untuk orang lain” menguap begitu saja. Situasi yang amat menonjolkan egosentrisme ini menjadikan orang lain disimplifikasikan untuk membesarkan kepentingan sendiri. Orang lain, yang bernama rakyat jelata, ditundukkan untuk mematuhi dorongan berkuasa elite politik. Orang lain direduksi guna memperkokoh, bahkan menyatu dengan keinginan pihak yang sama, yakni elite politik.

Fenomena itu kian nyata dalam advertensi dan aneka bentuk propaganda politik. Berbagai program diklaim berhasil karena kinerja sendiri tanpa partisipasi rakyat jelata. Atau, dalam arah berkebalikan, kritik berhamburan yang menunjukkan ketidakmampuan pemerintah. Namun, tujuannya adalah serupa, yakni menggelar ajakan berhimpun dengan kepentingan pihak yang ingin meraih kekuasaan lagi. Kepala-kepala berbicara (talking heads) tanpa sudi mendengarkan penderitaan orang lain. Itulah gejala masif politik tanpa wajah yang kini terjadi.

Wilayah politik terlalu sulit, bahkan sengaja menghindar untuk menjumpai wajah orang lain. Sebab, politik bertitik tolak dari aku-sebagai-pusat-kepentingan yang berupaya menjelmakan diri sebagai pengganti wajah orang lain. Padahal, wajah rakyat jelata yang ada dalam keserbalainan memiliki karakteristik yang begitu unik.

Politik dengan banyak ideologi, program, dan slogan amat berambisi untuk merengkuh dan merangkumnya dalam kategori statistik. Apakah wajah korban lumpur panas Lapindo dapat begitu saja disamakan dengan wajah kaum miskin dan mereka yang terlempar dalam kegetiran nasib sebagai pengangguran?

Lebih dari alegori

Jika Levinas menyatakan wajah orang lain adalah janda, yatim piatu, atau orang asing, sebenarnya merupakan penggambaran yang lebih dari alegori (kiasan). Mereka merupakan pihak-pihak yang secara esensial berkekurangan dan mengalami kehilangan dalam kehidupannya. Kaum janda kehilangan pasangan hidup. Anak-anak yatim piatu kehilangan orangtua. Orang-orang asing menggelandang karena kehilangan tempat tinggal. Deskripsi itu menunjukkan penggalan sejarah yang dilingkupi situasi-situasi khusus. Wajah orang lain pada perpolitikan kita, dengan demikian, dapat diperluas figurnya, seperti kaum miskin yang tidak memiliki kekuatan ekonomi, kaum penganggur yang kehilangan pekerjaannya, tenaga kerja yang terusir dari tempat berkarya, dan jutaan manusia yang lenyap harapannya.

Penggambaran wajah semacam itu, sebenarnya, terlalu reduksionistik. Hal ini dapat berlangsung karena wajah didekati secara politis dengan daya penglihatan yang berusaha untuk menggapai berbagai persamaan. Namun, penglihatan politis semacam itu telanjur berlangsung nyaman karena sengaja mengelupaskan keistimewaan wajah yang dimiliki setiap orang.

Kejadian yang lebih tragis adalah wajah-wajah orang yang penuh kenestapaan itu masih dipaksa menyaksikan raut muka para pemain politik yang dikemas dalam poster, slogan, dan iklan yang setiap waktu bergentayangan.

Politik tanpa wajah hanya bisa diatasi jika setiap elite yang (ingin) berkuasa menyimak penuh perhatian, dalam kata-kata Levinas, ”wajah itu berbicara kepadaku dan dengan begitu mengundangku pada sebuah relasi….” Relasi itu adalah kemauan untuk mendengar jeritan rakyat yang mengatakan: ”Jangan bunuh kami.”

Triyono Lukmantoro

Dosen Filsafat dan Etika FISIP Undip, Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: