Syahwat Generasi Biru

Syahwat Generasi Biru
Oleh Bambang Sugiharto

Sementara musik Slank bersambungan tanpa henti, ada seorang diktator berwajah menjengkelkan dan ompong terus saja berbicara penuh lagak dengan bahasa yang tak bisa dimengerti, ada anak yang selalu bersembunyi dan gagap menyaksikan kekerasan di sekelilingnya, bola dunia yang ditendangi terus-menerus muncul setiap kali, perang semprotan kencing, kupu-kupu animasi surealis beterbangan, dan sebagainya.

Itulah film mutakhir Garin Nugroho dan kawan-kawan, Generasi Biru. Ini memang bukan film cerita. Tak akan kita temukan alur linear yang tunggal dan jelas di sana meski bukan tanpa benang merah juga. Masalahnya hanyalah bahwa sejenis ”benang merah” itu terus-menerus dikecoh oleh berbagai tarian, animasi, ataupun potongan dokumenter, dan baru agak ketahuan di akhir (tokoh diktator dungu disetrum menjadi boneka robotik, si anak trauma keluar dari persembunyiannya menebarkan damai). Ini lebih seperti video klip panjang, video klip yang menggunakan lagu-lagu Slank sebagai siasat untuk merogoh tendensi-tendensi tersembunyi di balik gejolak masyarakat menengah-bawah, terutama dalam situasi peralihan sebelum dan sesudah reformasi. Yang lebih kuat bicara di sana bukan alur, melainkan siratan-siratan simbolik dalam rupa gambar dan tindakan: semacam performance art atawa karya multimedia yang direntang panjang.

Satir dan trauma

Yang langsung terasa dari film itu adalah satir yang mengandung geram kemarahan atas segala bentuk kekerasan, kekonyolan, dan kesewenangan di Indonesia selama ini. Kendati tema itu sendiri mungkin sudah nyaris klise, namun nyatanya hingga kini memang masih relevan, dan dalam film itu bentuk-bentuk ungkapannya lumayan tepat meski tak segar benar dan di beberapa tempat agak terlampau harfiah juga. Sosok penguasa digambarkan begitu dungu dan konyol dengan omongan yang tak bisa dimengerti, generasi yang menjadi korban dan terbelenggu trauma dilukiskan bagai anak yang gagu. Dua-duanya seperti mengisyaratkan bagaimana dalam situasi macam itu ”bahasa” menjadi alat manipulasi belaka, demikian kosong, sedang kemampuan berbahasa—kemampuan merumuskan diri— pun menjadi demikian gagap.

Dapat kita bayangkan bahwa kalau dahulu sosok sewenang-wenang itu tunggal dan jelas, kini ancaman kesewenangan sesungguhnya berubah menjadi banyak, sebanyak poster caleg di jalanan. Dan berbagai siasat penyuntikan otak—seperti dilukiskan secara grafis dalam beberapa animasi film itu—sebenarnya kini makin menjadi-jadi pula, justru dengan cara yang lebih beragam, terutama lewat media. Baik sebelum maupun sesudah reformasi rupanya bangsa ini makin terperosok dalam pergumulan syahwat kekuasaan dan kekayaan, bagai sebuah orgi raksasa, semua lawan semua. Itu sebabnya kendati ungkapan-ungkapan film ini agak terasa ”vulgar” dan liar—sekurang-kurangnya untuk ukuran Indonesia yang sedang tergila-gila pada ”akhlak”—orang tak bisa mengingkari bahwa pada hakikatnya itulah yang sesungguhnya sedang terjadi. Yang ironis dan absurd di negeri ini memang itu: atas nama ”akhlak” segala bentuk anarkisme liar dan kekerasan malah menjadi suci.

Merogoh tendensi tersembunyi

Namun yang lebih berharga dari film ini adalah bahwa penggabungan koreografi, animasi, dan beberapa footage unik dari film dokumenter tampaknya berhasil menggiring orang pada adegan-adegan di mana dorongan-dorongan bawah sadar yang tersembunyi di balik hiruk-pikuk fenomena sosial-budaya selama ini dapat tersibak sekelebat-sekelebat. Sepertinya film ini lebih tepat dinikmati ala teater Artaudian: kendati pun selalu ada teks lirik lagu, yang penting bukanlah itu, melainkan kesan keseluruhan atau gelegak rasa yang meruap dari konfigurasi total gerak dan gambar. Dengan cara itu film ini seperti mencoba merogoh tendensi-tendensi gelap yang ambigu, ironi-ironi mengenaskan dan kontradiksi-kontradiksi mendasar, di balik antusiasme, keputusasaan, dan kemarahan masyarakat sederhana selama ini. Tentu tidak dengan menjelaskannya, melainkan dengan melukiskannya pada imajinasi dan perasaan, hingga yang kita tangkap lantas hanyalah semacam kesan gestalt saja.

Kemarahan dan dendam atas kediktatoran dilukiskan dengan penyetruman sadistis di kursi listrik, tapi sekaligus juga dengan kekonyolan perang pipis dan keasyikan permainan tembak-menembak ala game animasi. Sejenis kerinduan arkhaik yang aneh seperti mencuat ketika ribuan anak muda yang tampak sangar itu mengelu-elukan ibunda seorang personel Slank dan menyebutnya sebagai bunda mereka semua. Tersibak pula semacam kerapuhan batin misterius saat mereka terlihat menangis mengikuti nyanyian rock Slank. Dan sebuah pesta simbol yang menggelikan serentak mengharukan tampil ketika dalam sebuah konser terlihat massa anak muda itu mengacung- acungkan berbagai gambar tokoh besar dunia yang tak jelas kategorisasinya: ada Martin Luther King, Mozart, Einstein, Paus Yohannes Paulus II, Mandela, dan sebagainya. Dan kita pun tiba-tiba merasa betapa keterbukaan interaksi global beserta berakhirnya ideologi barangkali memang telah mengacaukan persepsi simbolik bangsa ini, sekaligus juga telah membetot kerinduan utopis mereka ke imajinasi kolektif lebih besar, dan mungkin lebih tinggi. Yang jelas kekacauan persepsi simbolik itu kita saksikan juga pada pemandangan kota di mana kini berjejalan banyak iklan partai dan penawaran diri.

Suatu pemandangan lucu adalah ketika para petugas mewajibkan para penonton konser melepas sabuk-sabuk dari celana mereka (dalam rangka penggeledahan senjata tajam), dan akibatnya benteng stadion dipenuhi jajaran sabuk aneka ragam, bagai etalase para PKL yang sedang berjualan. Betapa di negeri ini paranoia terhadap tendensi kekerasan muncul di setiap saat dan tempat, dan akhirnya kerap melahirkan berbagai kekonyolan.

Permainan simbol yang menawan dan cerdas adalah ketika sebuah bola dunia (globe) setiap kali muncul dan ditendangi oleh anak-anak layaknya sedang bermain sepak bola. Bagi masyarakat yang kerap merupakan korban dari globalisasi barangkali cara arif untuk menghadapi globalisasi bukanlah dengan melihatnya sebagai hal besar atau tantangan berat, melainkan dengan mempermainkannya saja. Bagai menikmati sepak bola di tempat-tempat kumuh dan becek. Dan bakal macam apa proses globalisasi ini kelak boleh jadi memang akan lebih terlihat dari apa/siapa yang menjadi korbannya.

Film Generasi Biru memang bukan video klip MTV. Tapi ia juga bukan Opera Jawa. Ia berkelindan di antara keduanya karena memang menyandang kepentingan yang berbeda. Banyak ironi, dilema, dan paradoks yang tersembunyi di kedalaman ”ruang batin” masyarakat sederhana Indonesia dapat terbaca di sana. Sementara itu kita pun sadar, masih ada generasi lain dalam kehidupan urban kita, yang belum sepenuhnya kita pahami juga: generasi menengah-atas yang lebih kosmopolitan, yang di balik gaya hidup urban dan autisme elitisnya sesungguhnya menyimpan patologi dan kemungkinan kreatifnya sendiri juga. Generasi ini boleh jadi warnanya tidak ”biru”.

Bambang Sugiharto
Guru Besar Estetika, mengajar di Unpar dan ITB, Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: