Menemukan yang Baik

Menemukan yang Baik
Toto Sugiarto

Perilaku anggota DPR yang tidak kian membaik membuat harapan akan terwujudnya kehidupan bernegara yang bersih dari korupsi menjadi surut.

Sepertinya, kemunculan berita tertangkapnya anggota DPR hanya soal waktu. Pertanyaan ”masih adakah anggota DPR yang bermoral?” kian sulit dijawab.

Perilaku tercela yang terus dilakukan anggota DPR juga membuat pilihan rakyat dalam pemilu terasa sia-sia. Calon yang ditawarkan partai politik saat pemilu ternyata bukan tokoh yang berperilaku baik.

Bukan kriminal biasa

JJ Rousseau mengatakan, legislatif adalah jantung negara. Maka, ”kesehatan” legislatif amat menentukan sehat, kuat, dan hidup matinya negara. Begitu ”jantung negara” berhenti mengemban fungsinya, negara mati.

Atas pandangan Rousseau itu, kejahatan yang dilakukan anggota legislatif tidak bisa dianggap sebagai kriminal biasa. Kejahatan yang mereka lakukan membuat mekanisme tubuh negara terancam mengalami disfungsi.

Alih-alih berfungsi sebagai pengawas jalannya pemerintahan, mekanisme di legislatif justru menjadi alat tawar-menawar bermotif suap dan pemerasan. Jabatan wakil rakyat yang seharusnya menjamin tetap bersihnya mekanisme kehidupan bernegara justru menjadi penyebab yang mengotori. Darah politik yang tercemar merusak seluruh fungsi tubuh bernegara.

Mengingat status mereka sebagai anggota sebuah ”jantung negara”, tindakan tercela mereka merupakan kejahatan terhadap negara. Kejahatan mereka adalah sebuah rongrongan terhadap keberlangsungan republik.

Materi sebagai tujuan akhir

Dari kasus ini, kita belajar bahwa sukses dan demokratisnya pemilu ternyata belum merupakan ukuran baiknya moralitas politisi parlemen yang dihasilkan. Bebasnya rakyat dalam memilih bukan jaminan terpilihnya figur-figur yang bermoral baik.

Di satu sisi, tidak adanya korelasi positif antara demokratisnya pemilu dan moralitas politisi yang dihasilkan adalah karena pemilih yang salah pilih.

Di sisi lain, hal ini terjadi karena parpol gagal menyortir calon yang ditawarkan kepada pemilih. Kegagalan parpol inilah yang menyebabkan adanya celah bagi person-person tidak bermoral untuk lolos ke Senayan. Di sini dapat dikatakan, parpol berperan penting dalam munculnya perilaku yang mengancam eksistensi negara itu. Dengan kegagalan yang merugikan dan membahayakan negara, parpol perlu mendapatkan hukuman dan tak layak berada di Senayan.

Apakah Pemilu 2009 bisa menjadi ajang penghukuman? Apakah Senayan bisa terbebas dari penjahat-penjahat luar biasa? Siapa mampu melakukan?

Dengan rekam jejak yang buruk dari DPR, sikap parpol yang pada saat ”penyeleksian” daftar calon sementara enggan mencoret caleg bermasalah amat disesalkan. Sikap mereka persis mengungkap jati diri dan menggambarkan tidak adanya kehendak baik untuk memberantas korupsi. Alih-alih memberantas, mereka terkesan mendukung perilaku tercela itu.

Berdasarkan sikap parpol seperti itu, jika rakyat salah pilih pada pemilu, diperkirakan moralitas anggota legislatif mendatang tak akan lebih baik dibandingkan anggota legislatif sekarang.

Ketidakpedulian parpol terhadap moral calegnya mengakibatkan spirit parpol dalam berpolitik bergeser. Meminjam istilah Franky Sahilatua, kini parpol telah berubah menjadi industri kekuasaan. Analogi Franky itu benar.

Sebagai industri, keuntungan adalah moral dalam bertindak. Keuntungan dalam industri politik adalah kekuasaan untuk mendapat materi. Dengan demikian, tidak heran jika setelah kekuasaan diraih, materi adalah tujuan akhir.

Spirit ini memunculkan lingkaran setan. Politik sebagai industri membentuk pusaran dengan putaran kapital yang kian besar. Pusaran ini akhirnya menyingkirkan nilai-nilai lain.

Jargon-jargon politik

Kebaikan umum hanya menjadi jargon yang siap dikhianati. Maka, tak heran jika menjelang pemilu, jargon ”berjuang untuk rakyat”, ”berkarya untuk rakyat”, atau kontrak politik muncul di mana-mana. Namun, saat pemilu usai, semua dilupakan.

Adakah cara memutus proses produksi yang merusak jantung kehidupan bernegara? Siapa yang mampu melakukan? Jawabannya, pihak yang selama ini menjadi obyek kebohongan. Hanya rakyat dalam pemilu yang mampu memutus lingkaran setan dan menciptakan jantung kehidupan bernegara yang sehat dan bersih. Proses politik sebagai industri hanya bisa dihentikan oleh suara rakyat.

Untuk itu, perlu penyebarluasan informasi akurat tentang parpol dan rekam jejak caleg. Dengan demikian, rakyat dapat melihat partai mana yang dipenuhi politikus layak dipilih.

Menemukan yang baik adalah hak seluruh rakyat. Menyediakan yang baik adalah kewajiban parpol. Saat parpol melalaikan kewajibannya, adalah kewajiban negara untuk menerangi arena agar rakyat bisa menemukan yang baik. Dengan demikian, kita dapat berharap kursi parlemen tidak lagi dijadikan alat tawar-menawar yang berujung suap dan pemerasan.

Toto Sugiarto
Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: