“Desinkarnasi” Politik

“Desinkarnasi” Politik
Robert Bala

Pemilu legislatif sudah menjelang. Ia menjadi kali ketiga pascareformasi. Karena itu, secara logis tebersit harapan akan adanya ”lampu hijau” tentang arah perubahan yang seharusnya sudah terlihat.

Namun, mengapa harapan itu melemah? Mengapa kualifikasi sebagai salah satu negara demokrasi terbesar tidak membawa perubahan substansial?


Revolusi matahari

Dalam Revolution of Spirit dari Nantawan Boonprasat Lewis, ed (1998), ada kisah inspiratif suku Maya di Guatemala. Selama lima abad mereka mengalami penindasan. Penjajah dari Jazirah Iberia begitu buas mengeruk kekayaan alam. Pemerintahan lokal yang terbentuk pun hanya menjamin status quo, bukannya memperjuangkan rakyat.

Derita menjadi lengkap saat agama yang seharusnya membebaskan ternyata mengungkung. Ia hanya berlaga pada level ritual dan dogmatis. Agama asli kaum Maya yang mengakar dan inkarnatif disingkirkan.

Proses itu berlanjut. Kekuatan ekonomi neoliberal dan mesin kapitalisme yang datang sesudahnya ternyata lebih sadis. Mengutip ungkapan penerima Nobel Perdamaian asal Guatemala, Rogoberta Menchú Tum, ia bagai mengeluarkan daging dari tubuh (desencarnación). Manusia hanya dijadikan sarana, bukan tujuan.

Awalnya, realitas yang mencabik ini dilawan. Bahkan, beberapa pastor, seperti Francisco González Lobos, Aqueche, dan Durán, menggerakkan umat untuk bergerilya. Namun, lain yang terjadi. Kesalahan perhitungan menyebabkan penderitaan itu menjadi lebih lama dan tak pasti.

Kenyataan itu membuat mereka kembali pada akar budayanya. Matahari (sol), demikian Mark McClain Taylor dalam Hacia una revolución del sol, dijadikan inspirasi. Ia tidak sekadar salah satu benda langit, tetapi juga sumber inspirasi. Musim diatur sedemikian sehingga setelah kemarau, pasti hadir hujan yang membasahi dan menghidupkan.

Proses ini menyadarkan, perubahan akan muncul setelah setiap tragedi asal ada kesediaan untuk belajar dari pengalaman, kecerdasan menyusun proses, dan kesabaran menunggu momentum yang pas.

Sinisme

Di negeri kita, ”desinkarnasi” tidak hanya terjadi selama 350 tahun masa kolonialisme. Ia berlanjut selama 63 tahun kemerdekaan, terutama dalam 11 tahun reformasi. Derita kita tidak kurang sadis dari warga Maya. Tidak hanya darah dan daging (carne) dicabik, bahkan emosi sebagai kekuatan internal yang membuat seseorang bertahan hidup (meski hanya sesaat) pun diambil.

Hal ini amat terlihat dalam suasana pemilu saat ini. Dengan spanduk, baliho, dan stiker, rakyat diundang ikut berpesta demokrasi. Padahal, semua tahu, janji itu disangsikan. Pemilu dilaksanakan bukan demi rakyat, tetapi demi pemenuhan perilaku narsistik (Kompas, 7/3). Tipu muslihat (melalui korupsi dan suap) dihalalkan agar cinta diri berlebihan itu terpuaskan.

Kepincangan itu masih bisa diterima (meski terpaksa). Bagi rakyat, kafilah kehidupan (pekerjaan) terus berjalan. Apatisme dibiarkan menggumpal. Ada yang lebih penting, yakni tuntutan untuk bertahan hidup. Namun, saat badai pengangguran menghanyutkan 37.905 buruh (Kompas, 5/3), derita itu menjadi purna.

Reinkarnasi

Bagaimana ”mendagingkan kembali” (reinkarnasi) proses politik kita agar bermakna? Pertama, butuh totalitas perjuangan. Desinkarnasi yang begitu menggerogoti perlu dilawan dengan pembangunan kesadaran. Ia berawal dari internalisasi nilai-nilai yang lalu menyebar dalam kesadaran kolektif. Rakyat membangun partisipasi untuk memilih pemimpin berbobot dan mengawal mereka memenuhi janjinya. Jika proses ini dijalani, pemilu menjadi sarana perubahan seperti dijanjikan.

Kedua, perlu pemaknaan tentang materi. Selama ini egoisme kapitalistik telah membuang roh materi dan menjadikannya hanya sekadar obyek. Padahal, keadilan dan pemerataan bisa terwujud saat ia berbias dari kesadaran bahwa dalam setiap materi tersimpan imperatif moral untuk berbagi. Bila kesadaran ini ada, mustahil ada pengerucutan kekayaan pada diri sendiri.

Ketiga, perlu kesabaran revolusioner (paciencia revolucionaria). Reformasi selama ini kandas karena kita terjebak pragmatisme irasional untuk ”asal ganti” atau ”asal lanjut”. Kita kehilangan kejelian dan kesabaran untuk menilai secara rasional dan memilih sesuai nurani. Yang muncul hanya rasa iba untuk menentukan pilihan sesuai tampilan.

Sebaliknya, perubahan hanya bermakna saat kita mengedepankan nalar dan nurani. Nalar untuk menyibak kepalsuan, nurani untuk menempatkan keaslian sebagai prioritas. Bila proses ini dimulai, kesejahteraan umum akan ”mendarah daging”.

Robert Bala
Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca dan Universidad Complutense de Madrid, Spanyol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: