Indonesia Menuntut Tanggung Jawab!

Indonesia Menuntut Tanggung Jawab!

Pada sidang negara- negara G-20 4 April 2009 di London, delegasi Republik Indonesia tidak lagi cukup menjadi pelengkap-penyerta seperti selama ini, tetapi malah wajib menuntut tanggung jawab negara industri atas kebijakan mereka yang, sengaja maupun tidak, telah membawa umat manusia ke jalan yang keliru.


Kenapa Indonesia yang wajib menuntut? Pertama-tama karena delegasi Indonesia, sebagai utusan pemerintah, bertanggung jawab kepada rakyat Indonesia yang terus menderita. Kedua karena kita sudah turut memimpin prakarsa menghadapi pemanasan global yang membahana secara bersama. Ketiga karena kita sudah menyadari bahwa penanganan krisis tahun 1998 dilakukan secara keliru kendati menyelamatkan konglomerat telah malah melahirkan ketimpangan dan kesenjangan sosial yang kian menganga.

Dalam kaitan ini, pernyataan Perdana Menteri China beberapa waktu lalu menanggapi penanganan krisis menjadi sangat relevan: confidence, responsibility, and cooperation (kepercayaan diri, tanggung jawab, dan kerja sama). Artinya, kita perlu memupuk keyakinan bahwa masalah ini pun akan dapat kita atasi bilamana semua pihak yang bertanggung jawab mampu mengakui kekeliruannya secara ksatria dan semua kita mau menjalin kemitraan setara untuk meningkatkan efektivitas guna menyelesaikan krisis global ini secara utuh.

Selama ini, banyak pemimpin negara berkembang terpesona mengikuti gesekan biola yang menyenandungkan ”pasar bebas” sehingga perekonomian nasionalnya semakin rapuh. Tatkala harga pangan dunia melonjak tajam—sekali lagi akibat subsidi biofuel karena negara industri

ingin mentransformasikan kemandirian pangan mereka menjadi kemandirian energi—petani di negara berkembang tidak mampu segera meningkatkan produksi dan produktivitasnya guna turut meraih untung.

Kerawanan pangan

Memang dalam kurun waktu sekitar tiga dasawarsa, pendanaan penelitian dan pengembangan pertanian—yang melancarkan Revolusi Hijau—bergeser dari pemerintah negara industri kepada pengusaha sehingga justru agribisnis negara industri yang meraih keuntungan berlipat ganda tatkala harga pangan melonjak tahun lalu. Transformasi struktural, yaitu pergeseran bobot ekonomi dari pertanian-pertambangan ke manufaktur dan sektor jasa bernilai tinggi, menjadi semu karena petani bukannya naik kelas, tetapi justru digusur derita meninggalkan kampung halaman untuk menjadi TKI/ TKW. Kendati harga pangan sudah turun, hingga kini pun masih terdapat sekitar 850 juta penduduk dunia yang menderita kelaparan pangan.

Delegasi Indonesia juga membawa amanah negara-negara kepulauan, yang diberikan di Konferensi Bali, untuk memperjuangkan nasib mereka. Manakala tidak terus-menerus didesak, negara industri maupun pencemar lainnya akan cenderung mengabaikan segala kesepakatan yang telah dicapai dua tahun lalu. Sibuk mempertahankan rezimnya masing-masing, para politisi akan lebih memprioritaskan kebijakan yang mendapatkan dukungan para pemilih. Padahal, diperkirakan bahwa pada pengujung abad ke-21 hampir separuh penduduk dunia akan mengalami kerawanan pangan—sebagian besar yang sebenarnya tidak menyumbang kepada pemanasan global. Karena itu, pembahasan di London harus turut mempertimbangkan masalah penanganan pemanasan global secara saksama.

Mengapa kita perlu menuntut agar politisi negara industri bertanggung jawab? Karena pengakuan akan kekeliruan/kesilapan merupakan langkah pertama membangun kembali saling kepercayaan. Pengakuan yang menyirnakan keangkuhan ini diharapkan melahirkan kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang tunduk kepada Sang Pencipta, bukannya menjadi Tuan Semesta Alam. Manakala rasa kemanusiaan berhasil mengemuka, para politisi adikuasa mungkin akan lebih mudah memahami bahwa kesejahteraan serta masa depan anak cucunya terpaut erat dengan keselamatan dan kesejahteraan ratusan juta warga yang setiap malam tidur kelaparan. Bahwa, semua kita hanyalah sekadar musafir yang sedang berada dalam kafilah yang sama, yaitu Planet Bumi.

Keserakahan manusia

”Kekuatan lunak” yang kita kumandangkan selama ini sudah saatnya dibumikan melalui imbauan pemimpin delegasi RI kepada semua politisi dunia untuk retrospeksi dan introspeksi secara jernih. Tripetaka yang mengentak perjalanan peradaban kini, yaitu krisis ekonomi, pangan, dan lingkungan hidup secara serentak, semuanya bersumber pada keserakahan manusia semata. Pasar ”bebas” ternyata hanya bebas bagi yang berkuasa, tetapi terpaksa ditebus mahal oleh kaum terpinggirkan. Mungkin delegasi Indonesia akan dapat menjembatani posisi AS dan Eropa dengan mengajukan konsep untuk menggantikan Washington Consensus, yang hingga kini masih belum mampu mewujudkan keadilan, kedamaian, dan kemakmuran bersama.

Perlu ada semacam kesepakatan global yang mengakomodasikan konsep duniawi ”hak milik” dengan asas kekeluargaan, di mana semua politisi dan pejabat korporasi menaklukkan syahwatnya memupuk kuasa dan harta serta mulai memberikan sumbangsih membangun masa depan bersama. Atas landasan kesepakatan yang menahan keserakahan manusia seperti ini, kita akan dapat mulai mengkaji ulang semua kelembagaan yang mengatur hubungan antarbangsa guna membangun tata pamong global untuk bersama menghadapi tantangan zaman.

Dengan demikian, stimulus Amerika bukan lagi bertujuan sekadar untuk kembali pada keadaan ”prakrisis” dengan kandungan ketimpangan dan perilaku tidak bertanggung jawab, tetapi meletakkan landasan untuk dapat merakit tatanan global berdasarkan keseimbangan ekonomis, sosial, dan lingkungan hidup baru yang lebih manusiawi, mendekati posisi sebagian negara Eropa sekarang.

Hanya dengan demikianlah delegasi RI ke KTT G-20 di London akan dapat dinilai telah menunaikan amanahnya.

HS Dillon
Ketua Majelis Wali Amanah ITB 2003-2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: