Bagikan Uang, Prestasi, dan Dirimu

Bagikan Uang, Prestasi, dan Dirimu
A Setyo Wibowo

Kampanye marak. Berbulan-bulan para legislator atau presiden mencari dan mencuri perhatian dengan berbagai metode.

Selama kampanye, para pemilih bingung karena tenggelam dalam janji-janji, sementara para calon dihantui rasa gamang mabuk gelombang laut ciptaan sendiri. Bingung di pemilih, stres di calon. Di mana locus vexatus (problem yang membuat gatal- resah)-nya?

Dua metode klasik

Ada banyak metode berkampanye. Pertama, metode membagikan uang, sembako, kaus, atau sandang dan pangan, yang banyak dilakukan selama kampanye. Para calon menangkap, segmen terbesar pemilih adalah rakyat yang masih terkungkung beban survival. Di masyarakat mana pun, semua akan tertarik bila kampanye dilambari hal nyata seperti uang atau sembako.

Orang boleh mengkritik praktik politik yang mengeksploitasi basic needs ini dengan mengemukakan praktik demokrasi di negara modern menuntut kita maju melampaui money politics vulgar. Betul bahwa demokrasi negara maju sudah membuat sistem sedemikian rupa sehingga praktik uang dalam politik dibuat transparan dalam kawalan hukum. Namun, jika mengingat situasi, sepertinya kita baru boleh berharap, suatu saat demokrasi akan lebih transparan dalam dukung- mendukung secara finansial.

Metode kedua sebenarnya sama dengan sebelumnya, membagi-bagikan prestasi, track record kesuksesan, atau janji prestasi untuk menarik perhatian rakyat. Iklan di koran dan televisi digunakan untuk menggambarkannya. Para calon yakin, dengan mengiklankan deretan titel akademis atau religius, prestasi atau janji prestasi ke depan, rakyat akan memilih mereka.

Mereka yang kritis bisa tajam melihat bahwa titel di Indonesia tidak selalu berbanding lurus dengan kompetensi. Orang-orang juga mengerti, prestasi kuantitatif atau wanprestasi bersifat konjektural alias relatif. Lagi pula, ingar-bingar janji prestasi terlalu jelas menunjukkan cirinya sebagai iklan: sisi spectacle terlalu dibuat-buat agar spektakuler.

Kita boleh berharap, media yang memegang kunci pada hal terakhir ini bukan hanya menjadi penikmat panen uang, tetapi juga menolong rakyat dengan informasi kritis dan tajam namun cerdas dan mencerahkan.

”Akrasia”

Terlepas dari harapan perbaikan, kedua model kampanye itu bersifat irasional. Bila berpolitik adalah panggilan untuk mencapai kebaikan bersama, mengapa dengan sarana membagikan uang atau membuat-buat citra? Tidak ada konstitusi negara mana pun yang didasarkan pada uang atau citraan ambigu. Jelas irasional mengharap pencapaian masyarakat adil dan makmur kepada politisi yang menggantungkan diri pada uang atau imaji.

Para pemikir di Yunani abad V SM berbicara tentang akrasia. Saat orang tahu bahwa tujuan yang benar adalah x, tetapi yang dilakukan adalah non-x, di situ ada akrasia. Para politisi kita sadar, tujuan berpolitik adalah bonum commune (kebaikan bersama). Namun, bila sarana untuk mencapainya adalah uang, entah vulgar atau maupun subtil, logika investasi modal selalu menuntut pengembalian atau untung untuk pribadi, tentu saja kontradiktif dengan tujuan yang diarah.

Akrasia adalah kendurnya kontrol diri manakala orang tidak bisa menyambungkan tujuan rasional dengan perilaku irasionalnya. Menyerah pada tuntutan nafsu (basic needs, seperti makan, minum, seks, atau uang) dan menaruh dalam tanda kurung aneka tuntutan rasional yang disadari adalah tanda kelemahan kehendak, akrasia.

Membagikan diri

Maka, tidak heran ancaman paling serius dari dua model itu adalah kebingungan di pihak pemilih karena mereka menjadi tidak tahu lagi apa tujuan pemilu. Orang menjadi sesak karena keluhuran demokrasi direduksi pada lembaran uang, menjadi sumpek oleh gebyar kosong pertunjukan iklan. Namun, ancaman lebih serius menimpa si calon: stres pascapertaruhan pemilu. Ketidakmampuan mengontrol diri menggunakan uang akan berbuah stres dan niscaya menuntut modal dikembalikan.

Hanya orang yang mampu menguasai diri yang bisa menyesuaikan sarana uang dengan tujuan-tujuan rasional berpolitik. Ia tahu uang hanya menjanjikan kesetiaan taktis sesaat bahwa pesona prestasi juga tidak serta- merta membuat takjub. Dan, lebih dari itu, ia tahu modal utama berpolitik adalah diri sendiri: berbicara jujur, mengabdi secara konkret, mengakui keterbatasan diri, sekaligus keinginannya untuk berbuat hal-hal besar demi bonum commune.

Guru pengenalan diri, Sokrates, sering berbicara keutamaan sophrosune (ugahari) untuk mengatasi irasionalitas akrasia. Menurut dia, lewat mengenal diri, artinya mengenali jiwanya (bukan uang atau prestasi eksterior), orang memiliki persepsi tepat tentang dirinya sendiri, artinya tahu diri (ugahari). Orang- orang seperti ini jelas tidak akan mudah stres dan ia juga tidak akan membingungkan pemilihnya. Politik adalah pengabdian dan pemberian diri. Sekadar mengorbankan uang, apalagi orang lain, tidak pernah menjadi ciri khas orang-orang yang dikenang sejarah sebagai pahlawan atau negarawan.

A Setyo Wibowo
Pengajar STF Driyarkara, Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: