Obama dan Imlek; Merayakan Pluralitas

Obama dan Imlek; Merayakan Pluralitas

Pelantikan Barack Husein Obama membuat dunia terkesima. Seluruh dunia kagum dengan pilihan rakyat Amerika yang mengangkat presiden pertama berkulit hitam sepanjang sejarah negara adidaya ini. Tingkat kedewasaan rakyat Amerika sudah teruji sekian ratus tahun sampai pada akhirnya penghargaan atas martabat manusia (yang tidak memandang warna kulit, ras, suku dan kelas sosial) menduduki takhta tertinggi dalam peradaban mereka.

Rakyat Amerika membuktikan bahwa cita-cita bangsa jauh lebih penting daripada mempersoalkan soal etnis atau warna kulit. Dengan begitu, rakyat Amerika terus melangkah maju meninggalkan topik-topik “primitif-kuno” soal pluralitas yang bisa menenggelamkan kebesaran negaranya.
Di Indonesia, hari-hari ini suasana Imlek sedang merebak dimana-mana.
Aslinya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi. Perayaan ini dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.
Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti “kemakmuran,” “panjang umur,” “keselamatan,” atau “kebahagiaan,” dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur.
Imlek kini bukan hanya milik etnis Tionghoa, melainkan milik bangsa. Berbagai inkulturasi budaya terjadi. Maka, sesungguhnya yang menarik dari Imlek adalah tentang peleburan budaya lokal dan budaya asli. Di situ ada penghargaan terhadap pluralitas (keberagaman) sekaligus penghargaan terhadap budaya warga peranakan.
Dengan menghargai pluralitas, berarti kita menghargai kehidupan yang dianugerahkan kepada kita. Tugas selanjutnya adalah menjaga pluralitas itu demi kemajuan bangsa. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya.
Selamat merayakan Imlek, selamat merayakan pluralitas.

Yudhit Ciphardian
(dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: