Generasi Penyusu, Generasi Penumpang

Generasi Penyusu, Generasi Penumpang
Oleh AHMAD SYAFII MAARIF

Salah satu gejala sosiologis politik yang luput dari perhatian publik adalah munculnya generasi penyusu atau generasi penumpang. Apa itu, siapa itu?

Tidak lain dari sosok si anak, adik, atau kemenakan yang maju sebagai calon anggota legislatif dengan menyusu atau menumpang pada kewibawaan dan popularitas orangtua atau keluarga dekatnya, sementara dia sendiri secara politik masih belum punya apa-apa untuk ditawarkan kepada bangsa dan negara.

Generasi yang ”dipaksa” tampil ini tentu tidak dapat diharapkan agar menjadi politisi dengan mental merdeka dan mandiri untuk bersaing secara wajar dan sehat dengan warga negara yang memang dari awal muncul atas kemampuan dan kekuatan sendiri tanpa bayangan orangtua atau keluarganya. Anda bisa bayangkan akan betapa rapuhnya kultur politik kita pada masa depan jika pemimpin yang tampil adalah para penyusu belaka.

Semifeodal

Generasi penyusu jika tidak cepat dan sigap melepaskan diri dari pengaruh patronnya sudah dapat dipastikan akan menjadi sasaran bisik-bisik berkepanjangan. Dan itu pasti menyakitkan. Publik yang siuman akan mengatakan bahwa fenomena perpolitikan Indonesia ternyata sampai batas-batas tertentu masih melekat pada kultur dinastik semifeodal, sesuatu yang dulu ingin dilumpuhkan oleh cita-cita pergerakan nasional dan revolusi kemerdekaan. Dalam perkembangan sejarah, unsur-unsur semifeodal itu masih bertahan, justru mendapat perlindungan dari mereka yang mengaku sebagai demokrat dengan kibaran panji-panji egalitarianisme. Demokrasi sejati tidak mungkin tegak secara sehat dalam kepungan sisa-sisa budaya feodalisme dinastik itu.

Saya tidak perlu menyebut identitas mereka itu sebab orang yang aktif membaca pergerakan peta politik Indonesia akan dengan mudah memahami ke mana ujung tombak tulisan ini mengarah. Kita punya beberapa contoh terbuka tentang mulai merebaknya kemunculan generasi penumpang ini. Bagi saya, orang tidak perlu terlalu risau dengan gejala ini. Sebab, siapa pun yang muncul ke panggung politik, dalam perjalanan waktu pasti akan dibenturkan pada ujian-ujian sejarah yang adakalanya sangat kejam. Dalam ujian itu nanti akan terlihat mana yang emas mana pula yang tembaga.

Generasi penyusu jika tidak awas dalam menyiapkan diri menjadi politisi merdeka, lebih baik siap-siap dari sekarang untuk hanya mengejar posisi tembaga. Biarkanlah warga lain yang dari semula memang tidak bergantung pada patron mana pun, tidak juga pada orangtuanya. Mereka inilah yang diharapkan untuk memimpin Indonesia pada masa depan: generasi merdeka dan mandiri!

Budaya pragmatisme

Sistem demokrasi yang sehat pasti akan melahirkan masyarakat meritokratik: posisi terhormat hanya diberikan kepada mereka yang memang layak untuk itu dengan sederet persyaratannya. Sebenarnya gerakan reformasi sejak 11 tahun lalu punya slogan yang bagus dalam format anti-KKN. Ironisnya, dalam perjalanan waktu yang belum lama justru telah disiapkan pula generasi penyusu yang menorpedo cita-cita mulia reformasi itu. Dengan demikian, demokrasi Indonesia yang memberikan peluang sama kepada semua warga dalam politik masih harus dihadapkan pada tantangan-tantangan aneh yang sengaja disu- supkan oleh pertimbangan-pertimbangan pragmatisme politik tunanilai dan tunavisi.

Selama beberapa tahun pada era pascaproklamasi, tercatatlah beberapa partai politik yang anti- feodalisme dalam teori dan praktik, tetapi semuanya telah menghilang dengan suratan tangannya masing-masing. Partai-partai itu adalah Masyumi, PKI, Partai Katolik, dan PSI. Adapun keturunan mereka yang telah putus rantai dengan pendahulunya akan menemukan kesulitan besar untuk meneruskan sikap antifeodalisme itu karena dua kemungkinan sebab. Pertama, mereka memang sudah tidak berminat lagi membuka lembaran sejarah pendahulunya. Kedua, budaya pragmatisme telah menutup mata kalbu mereka untuk tidak merasa malu melahirkan generasi penyusu dengan segala akibat buruknya di kemudian hari. ”Sungguh, pada kisah-kisah mereka,” tegas Al Quran, ”terdapat pelajaran moral (’ibrah) bagi mereka yang punya visi tajam.” (Surat Yusuf: 111)

Dalam kultur yang serba instan, tentu suara Langit ini tidak banyak lagi yang menghiraukan.

Ahmad Syafii Maarif
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah
Rabu, 29 April 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: