Perang Ayunan

Perang Ayunan

Oleh Jakob Sumardjo

Orang-orang yang berperang ayunan harus sama senjatanya, seimbang tenaganya, masing-masing harus memegang kejujuran. Siapa yang tidak jujur, meski menang, tetap kalah.

Itulah pesan Puun Kais, Kepala Kampung Cikeusik, Baduy Dalam, tahun 1950. Orang-orang Baduy pantang meneteskan darah orang lain, mereka pendamai, pekerja keras, hidup miskin, obyektif, lugas, teguh pendirian pada adat nenek moyang, pemberani. Semboyan mereka yang menarik, ”bekerja keras hasil sedikit”, bertolak belakang dengan semboyan kita kini, ”bekerja sedikit hasil melimpah”.

Tinggal dongeng

Kini etik kesatria semacam itu tinggal dongeng. Tetapi, kini juga dapat dipahami karena mereka hidup dari berladang kering di tanah perbukitan yang pantang menggunakan alat pertanian logam. Mereka hidup dalam kelompok kecil yang cukup memenuhi hidup sehari-hari.

Sedangkan kita hidup di zaman industri daerah perkotaan yang padat. Setiap orang mengurus diri sendiri. Kita hidup bukan dari pertanian ladang, tetapi dari persaingan usaha, persaingan modal, persaingan kepintaran, persaingan golongan. Itu sebabnya etika kita juga bertolak belakang dengan mereka yang tinggal sekitar 100 kilometer dari Jakarta. Kita tidak butuh etik perang ayunan. Kita membutuhkan senjata lebih hebat dari lawan, membutuhkan golongan lebih besar dari lawan, membutuhkan strategi dusta kepada lawan sehingga kejujuran adalah kebodohan yang fatal.

Jika orang Baduy pantang meneteskan darah orang lain, kita paling rajin, kalau bukan maniak, meneteskan darah saudara, teman, tetangga, apalagi musuh- musuh kita. Bukan hanya darah badan, tetapi juga darah pikiran, darah perasaan, darah keinginan. Kita hidup dalam etika hukum rimba, yakni hanya kenyang sesudah membunuh mangsa kita.

Sejarah bangsa Indonesia sebenarnya miskin perang, sekurangnya jika dibandingkan dengan sejarah dunia. Akademi- akademi militer negara asing boleh menulis sejarah perangnya dalam buku-buku tebal, tetapi sejarah perang kita tidak akan setebal mereka. Mungkin itu sebabnya bangsa Indonesia dengan mudah dikalahkan rombongan beberapa kapal Eropa di negeri sendiri. Orang Indonesia hanya mengenal jenis perang ayunan di atas.

Dalam perang ayunan, Anda tidak akan memerangi musuh yang tidak seimbang karena kemenangan Anda tetap berarti kekalahan. Anda menang secara tidak terhormat. Anda menang karena tidak jujur. Anda menang dengan memanfaatkan kesempatan. Anda menjalankan strategi yang penuh kelicikan, kecurangan, dusta, dan tipuan akibat tujuan Anda yang utama adalah kemenangan. Itulah yang membikin heran orang Baduy.

Perang-perang pramodern Indonesia, yakni prakolonial di Indonesia, adalah perang yang memihak pada kehidupan, bukan perusakan dan pemusnahan. Meski negara-negara maritim Melayu pernah dengan sengit bermusuhan dengan negara-negara agraris Jawa, mereka tidak pernah menghancurkan negara lain. Bahkan, di negara-negara agraris Jawa yang sering berperang itu, tidak pernah bertujuan membunuh sebanyak mungkin prajurit musuh, seperti sering kita saksikan dalam film-film Hollywood. Perang-perang masyarakat agraris ini lebih suka menjadikan lawan sebagai tawanan agar tenaga mereka dapat dimanfaatkan memproduksi padi di sawah-sawah yang baru.

Amatir perang modern

Orang Indonesia sebenarnya amatir dalam perang modern. Perang kita adalah perang ayunan, perang yang sesedikit mungkin mengucurkan darah lawan. Setelah memasuki zaman kolonial, pikiran perang ayunan disingkirkan karena lawan menang dengan strategi kelicikan. Maka, mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Jika gigi saya satu ditanggalkan, saya harus membalas dengan merontokkan tiga giginya. Itulah yang dilakukan Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger dalam film-film mereka. Itulah etik industri.

Kita telah lama menilai kearifan lokal masyarakat pedesaan semacam Baduy sebagai kebodohan dan ketinggalan zaman. Pikiran semacam itu, etik semacam itu, harus dipendam dalam pada zaman persaingan industrial ini. Pikiran industrial hanya mengenal satu tujuan: kemenangan tunggal. Jago di antara jago-jago. Maka, etika perang adalah memusnahkan yang lain. Musuh yang selalu muncul harus diperangi dan dimusnahkan. Jika sudah jago di daerah, ingin jago di nasional, di regional, di global, di galaksi, seperti diimpikan dalam buku dan film science fiction.

Indonesia?

Apa yang kau cari Indonesia? Kehidupan atau kematian Indonesia? Jalan kematian itu mudah, berpikirlah menjadi jago satu-satunya di negeri ini. Semua di luar Anda adalah musuh. Dan, gunanya musuh adalah buat dihabisi demi kejayaan kejagoan Anda.

Atau, kita akan memikirkan kembali pikiran-pikiran bodoh wong ndeso itu? Perang ayunan? Bahwa kita ini, meski hidup di zaman industri, menjunjung tinggi etik perang ayunan, kode kekesatriaan, menghormati kehidupan musuh-musuh sendiri? Bahwa kita hidup dalam sebuah kampung besar bernama negara dan semua yang ada di dalamnya adalah saudara kita juga? Kalaupun harus berselisih, berperang, kode etik perang ayunan yang dipakai?

Jakob Sumardjo 

Esais

Sabtu, 20 Juni 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: