Refleksi 44 Tahun Harian “Kompas”

Refleksi 44 Tahun Harian “Kompas”

Jakob Oetama

Dalam usianya yang hari ini genap 44 tahun, masuk akal jika harian Kompas telah bersosok atau, untuk meminjam ungkapan Prof De Volder, lembaga yang organik dan organis. Organik karena surat kabar itu telah bersosok dalam organisasi yang terdiri dari beragam bagian, seperti redaksi, periklanan, distribusi, dan percetakan. Organik yang terdiri dari beragam bagian, termasuk percetakan itu, berfungsi secara organis. Berbagai bagian bekerja sama, berinteraksi untuk melaksanakan fungsi dari berbagai bagian itu. Fungsi yang beragam itu secara organis bekerja sama dan bersinergi untuk menjalankan peran, panggilan, serta beragam fungsi itu secara organis. Organisasi yang organik dan organis diikat oleh tujuan dan falsafah bersama. Falsafah dan etik berperan dalam mengembangkan dan memfungsikan surat kabar secara organik dan lebih-lebih lagi secara organis. Hidup, berkembang, dan berfungsilah surat kabar itu dalam fungsi dan peranannya seperti memberikan informasi, menjalin komunikasi dan interaksi, melakukan fungsi mendidik, menghibur, serta mengontrol secara kritis-konstruktif.

Perikehidupan masyarakat dan karena itu juga perikehidupan warga, termasuk pembaca surat kabar, berkembang dan berubah. Lantas bagaimanakah posisi dan peran surat kabar? Tentu saja sosok dan peran media juga terpengaruh karena hubungan media dan khalayaknya (audience-nya) merupakan interaksi aktif dan dinamis. Apalagi jika masalahnya dikontekskan dengan kondisi dewasa ini, dinamika dan intensitas perubahan adalah fenomena yang amat nyata, tampak, dan terasa. Perubahan yang berlaku dalam media dewasa ini amat mendasar, komprehensif, dan menantang. Perubahan itu bukan saja menyentuh peran media, tetapi juga menggugat eksistensi berbagai media itu sendiri.

Bukan saja wartawan, karyawan, dan penerbit, melainkan juga khalayak pun tahu dan menyaksikan perubahan yang menyangkut seberapa jauh eksistensi media cetak di tengah muncul dan berperannya media elektronik. Perubahan itu terbatas hanya pada naik-turunnya beragam media itu saja ataukah menggugat dan mengakibatkan, misalnya berakhirnya media cetak? Selama dasawarsa belakangan ini, masalah itulah tema sentral setiap pertemuan para penerbit dan para ahli media massa. Di sejumlah negara, koran-koran besar yang punya nama dan sejarah panjang sudah berhenti terbit. Topik masa depan media cetak adalah isu yang masih tetap aktual dan relevan dewasa ini.

Terhadap masalah yang menyangkut eksistensi media cetak, kita digugat pertanyaan retorik, apakah mungkin orang tidak lagi memerlukan membaca karena kebutuhannya cukup dipenuhi dengan nonton. Lebih lunak posisi pertanyaan, apakah orang tetap membaca, tetapi lewat media elektronik belaka? Apa boleh buat, itulah persoalan kemajuan atau modernisasi yang dalam hal ini adalah modernisasi teknologi baca dan nonton. Prosesnya berjalan terus. Proses itu menarik, tidak hanya karena menyangkut masa depan budaya baca dan budaya nonton, tetapi juga karena perkembangan itu disertai berbagai hal yang sarat kemungkinan intrik berikut provokasi serta simplifikasinya. Persoalannya lebih lagi sarat daya tarik karena perkembangan dan perubahan itu akan membawa berbagai akibat dan pengaruh yang nyata dalam peradaban dan kebudayaan baca tulis dan nonton.

Ketika sebuah surat kabar memperingati, berintrospeksi, serta mensyukuri hari jadinya, masuk akal jika konteks perubahan zaman nyelonong masuk dalam refleksi. Surat kabar bersosok un journal c’est un monsieur, koran bersosok pribadi, bahkan dalam ungkapan Perancis disebut sebagai un monsieur, yang dipertuan, jika surat kabar itu lewat kehadiran dan perkembangannya sempat dipandang memiliki sosok. Sosok yang berpribadi memerlukan beragam syarat yang diekspresikan juga dalam atribut. Atribut itu di antaranya yang sentral adalah falsafah yang membentuk sosok itu memiliki kepribadian. Surat kabar memerlukan pandangan agar bisa membentuk dan mengembangkan pribadinya. Pandangan dan falsafah itu merupakan kerangka acuan sekaligus salah satu inspirasi bagi eksistensi, perkembangan serta perannya. Surat kabar, seperti halnya berbagai media lain, memiliki visi dan misi. Substansi visi itu kiranya memiliki kualitas yang permanen, tetapi tetap dinamis dan terbuka.

Bukan maksudnya mengganggu rasa syukur kita kepada Yang Maha Rahim dan kepada khalayak ramai, masyarakat pembaca Kompas pada Hari Ulang Tahun Ke-44 Kompas hari ini. Tulisan ini terutama ekspresi rasa syukur secara vertikal dan horizontal dan pangkal tolak refleksi terhadap perubahan dan perkembangan yang berlangsung dinamis dan penuh tantangan pada dunia media massa. Karena media senantiasa berkomunikasi dan karena itu selalu memiliki rekan komunikasi, termasuk khalayak pembacanya, dialog inilah yang kita sampaikan.

Bisa dipahami karena sosok, pribadi, dan tabiatnya berkomunikasi, falsafah koran yang berakar pun memerlukan dialog dengan khalayak pembaca dan zamannya.

Minggu, 28 Juni 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: