Ke(pen)cerdasan Politik

Ke(pen)cerdasan Politik

William Chang

Proses debat capres- cawapres di media audio-visual ibarat kuliah politik populer. Pemirsa bisa lebih mengenal isi dan alur pikiran politik mereka. Penonton dibuat cerdas?

Hingga kini masih banyak anak bangsa bingung menjatuhkan pilihan dalam pilpres pekan depan. Pasangan capres-cawapres manakah yang terbaik dan termampu memimpin RI lima tahun ke depan? Bagaimanakah janji-janji dan kontrak politik dapat diwujudkan? Sanggupkah mereka mengantar bangsa kita menuju negara yang lebih adil, makmur, dan sejahtera?

Spekulasi politik itu menggiring banyak pemilih kepada prinsip minus malum (kejelekan yang sedikit). Sedang disoroti program, visi-misi, dan skala prioritas pembangunan capres-cawapres. Calon ”terbaik” akan menggeser calon-calon ”kurang baik”. Barometer minus malum antara lain berpangkal pada kejujuran debat publik atau polling beberapa lembaga survei terpercaya.

Kriteria elektibilitas capres- cawapres terkait berbagai keutamaan personal, penegakan hukum, dan penyejahteraan rakyat. Pemetaan dan penanganan problematika nasional sejak kemerdekaan amat diperlukan untuk melahirkan Indonesia baru yang tidak lagi terlilit utang, tetapi menjadi bangsa bermartabat dan bermasa depan.

Politik duit

Ada dua gejala sosial yang muncul. Pertama, rumor-rumor politik yang membingungkan. Kedua, politik duit yang sedang berlangsung. Bagaimanakah kita menyikapi kedua gejala ini?

Pertama, rumor-rumor politik provokatif disebarkan melalui SMS atau selebaran gelap tentang capres dan cawapres tertentu, kadang dengan nada perioratif. Black campaign mulai mengguncang gelombang spekulasi politik. Benarkah rumor-rumor politik ini? Mengapa rumor- rumor politik go national?

Kedua, politik duit tak terbendung. Tampaknya strategi serangan fajar atau senja sedang disiapkan setiap kubu. Maksud terselubung ada di balik filsafat do ut des. Suara rakyat kecil (petani, nelayan, kaum buruh, dan penganggur) umumnya dengan mudah dibeli parpol tertentu. Soalnya, rakyat kecil memerlukan duit di tengah kesulitan hidup sehari-hari.

Menanggapi dua gejala ini, tiap pemilih perlu kritis menyikapi rumor politik dan dengan cermat membedakan politik duit dan hak dasar untuk menjatuhkan pilihan, sebab pemberian bonus pada dasarnya tidak bisa mengubah keputusan nurani seseorang. Jual-beli hak dasar memilih hanya merendahkan martabat manusia. Sebuah pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan bermula dari keputusan nurani yang sehat, benar, dan jernih.

Kecerdasan politik

Pilpres ini mencakup proses pencerdasan rakyat dalam menentukan pemimpin terbaik dan terlayak negeri ini. Pencerdasan politik ini menuntut pembacaan dan analisis atas tanda-tanda zaman pada era globalisasi. Kecerdasan ini akan menuntun kita mengambil keputusan politik yang tepat, benar, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kecerdasan politik dalam bingkai demokrasi partisipatif, menurut John Stuart Mill dan Carole Pateman, selalu terkait transformasi dan pendidikan politik elektorial. Teori pilihan sosial mengingatkan adanya bahaya-bahaya berupa: (1) manipulasi politik yang dapat menggoyahkan nurani; (2) ruang politik yang sektarian; (3) pelecehan harkat dan martabat manusia oleh calon pemimpin (Jon Elster, The Market and the Forum: Three varieties of political theory, 2003).

Kecerdasan politik ini tidak hanya terpaku pada indahnya program kerja, tetapi juga mempertimbangkan kesanggupan si pemimpin untuk mewujudkan program itu. Presiden terpilih menjadi simbol otoritas politik penguasa sehingga figur yang akan memimpin adalah seorang tokoh yang inklusif, bukan pemimpin sektarian yang membahayakan integritas bangsa. Kejujuran, semangat pelayanan, dan kesetiaan terhadap kualitas moral seorang pemimpin tak bisa dihindari sedikit pun.

Apakah capres-cawapres yang akan dipilih sanggup mereformasi seluruh sistem dan mekanisme pemerintahan NKRI? Aneka lumbung sumber korupsi harus dibongkar, mekanisme dan birokrasi koruptif dipangkas, koruptor diadili, penegak hukum dibersihkan, kesejahteraan rakyat diwujudkan. Benarkah presiden- wapres terpilih akan memimpin bangsa ini dengan lebih baik, bersih, dan bertanggung jawab dalam roh reformatif?

William Chang

Ketua Program Pascasarjana STT Pastor Bonus

Jumat, 3 Juli 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: