40 Tahun Woodstock

40 Tahun Woodstock

Tuhan Memberkati Kalian…

Oleh : BRE REDANA

 

40 Tahun WoodstockFestival Woodstock Agustus 1969 seperti menggenapi ramalan Nostradamus mengenai munculnya fajar ”zaman baru”. Gemanya yang kuat, termasuk apa yang kemudian disebut ”counter culture”, barangkali yang membuat munculnya album DVD untuk memperingati 40 tahun Woodstock sekarang. 

Album terdiri dari dua cakram DVD itu, menurut majalah Rolling Stone, diedit dari hasil pengambilan gambar melalui pita film yang kalau dijumlah panjangnya mencapai 70 mil atau lebih dari 100 kilometer. Itulah hasil rekaman dari peristiwa bernama ”3 Days of Peace & Music”, berlangsung di Bethel, New York, tanggal 15, 16, 17 Agustus 1969.

Sungguh peristiwa yang menggambarkan kebesaran dan keelokan manusia. Dalam DVD yang dirilis di Amerika Juni lalu itu, terlihat bagaimana Michael Lang, penggagas dan penggerak acara, mempersiapkan semuanya. Ia bergerak ke sana-kemari dengan sepeda motor Honda-nya, di lahan luas pertanian yang tanpa festival itu adalah semata-mata tempat ”jin buang anak”. Muda, energik, mengenakan rompi kulit tanpa baju, barangkali Lang mengantisipasi pengunjung hanya sekitar 50.000 orang.

Pada gambar-gambar berikutnya, diperlihatkan manusia dan kendaraan mulai mengalir ke Bethel. Berkilo-kilometer kendaraan tidak bergerak karena membeludaknya manusia. Seorang maharishi dari India berkomentar, melihat lautan anak muda, yang pada masanya lalu menorehkan sejarahnya sendiri: 500.000 orang, dalam ”tiga hari perdamaian dan musik”. Perdamaian benar-benar bermakna harfiah: wilayah pertanian itu dengan seketika menjelma menjadi ”kota terbesar kedua di Amerika setelah New York”, tanpa polisi, tanpa keributan.

”Anak-anak yang indah…,” komentar penduduk setempat. Sang maharishi juga menyebut, kalau orang India melihat apa yang terjadi di situ, pasti tidak percaya bahwa ini Amerika. Amerika di benak mereka adalah manusia yang rapi, klimis, berdasi. Sementara di Woodstock, semua anak muda berpakaian dengan otentitas masing-masing. Yang laki-laki berambut panjang, berjenggot, baju kembang-kembang, sebagian menggendong anak bahkan bayi.

Di sinilah diam-diam revolusi jender beroperasi, tidak sekadar jadi omongan para aktivis seperti sekarang. Mendobrak kebiasaan sosial sebelumnya, lelaki punya tanggung jawab sama dengan perempuan dalam mengurus anak, memiliki kelembutan, apalagi kalau tengah mengisap mariyuana….

Gelombang manusia itu mengubah segala-galanya. Bukan hanya historis gerakan protes anak muda terhadap politik Amerika pada masa itu, melainkan juga festival itu sendiri. Program jadi kacau. Richie Havens, gitaris, pada tahun 1994 ketika diselenggarakan peringatan 25 tahun Woodstock mengingat, pada tahun 1969 dalam jadwal dia bukan dalam urutan pertama untuk tampil. Hanya saja, penyelenggara kesulitan membawa pemain band dengan alat-alatnya, dari motel yang terletak beberapa kilometer dari panggung karena jalanan macet total. Havens yang alatnya dianggap paling minim, hanya gitar dan conga, langsung diangkut helikopter, turun di belakang panggung, dan segera naik panggung.

Sampai dua jam dia naik turun panggung karena belum ada pemusik lain yang bisa terangkut, siap di belakang panggung. ”Di situlah, setelah beberapa waktu di panggung, menyetel alat seadanya, saya menyadari bahwa ini bukan festival musik,” kenang Havens, demi melihat lautan manusia itu tak keberatan dengan apa pun terjadi di panggung.

”Saya menyebut ini festival pertama masyarakat Amerika di mana orang datang untuk merayakan esensi (kemanusiaan) mereka, perhatian dan keprihatinan mereka, perasaan mereka terhadap apa yang terjadi di dunia sekeliling mereka.”

Spiritualitas baru

Semua berlangsung di luar perhitungan. Menjelang petang, awan hitam menggantung di angkasa. Badai akan segera datang. Para awak panggung kalang kabut menyelamatkan alat-alat musik, menutupi plastik untuk alat-alat yang tak bisa dipindahkan. Panitia dengan mikrofon membantu mengorganisir ratusan ribu orang itu, menghadapi bencana hujan badai yang segera tiba.

”Badai akan datang. Menjauh dari tower…,” seruan terdengar berkali-kali. ”Bergerak ke belakang. Let’s keep nice and cool,” suara ajakan terdengar simpatik. Lautan manusia itu pun bergerak mengorganisir dirinya sendiri. Di panggung kembali terdengar suara, ”Sebentar lagi listrik akan kami padamkan. Mikrofon akan mati. God bless you… (Tuhan memberkati kalian).”

Kabar dari Woodstock menjadi headline koran-koran di Amerika, mengatasi berita apa pun. Beritanya apa lagi kalau bukan kekacauan (disaster), seks, dan mariyuana. Sementara di Woodstock, anak-anak muda menghayati apa yang dialami secara berbeda dari berita-berita sensasional pers. Badai dan lumpur bukanlah bencana. Mereka menari-nari dalam hujan, main perosotan di lumpur pertanian. Sebagian mencopot pakaian, telanjang bulat. Dalam benak anak-anak muda yang sedang menyodorkan budaya tanding ini, tubuh harus diterima sebagaimana adanya. Tubuh-tubuh wanita yang telanjang harus diterima sebagaimana adanya, bukan dalam eksploitasi keindahan ala majalah Playboy.

Ketika badai reda, panggung bergulir dengan penampilan ”dewa-dewi” Generasi Bunga kala itu: Joan Baez, Joe Cocker, Crosby, Stills & Nash, Janis Joplin, The Who, Jimi Hendrix, Santana, dan lain-lain. The Who tampil garang pada malam hari, dengan lengkingan Roger Daltry ataupun loncatan sang gitaris Pete Townsend. Lalu pada pagi yang cerah, muncul Santana yang riuh sekaligus menggerakkan jiwa lewat kemeriahan ”Soul Sacrifice”.

Dari panggung kadang menyela pengumuman: ”…tersedia makan pagi untuk 400.000 orang. Bagi secara rata. Kalau Anda lelah mengunyah, bagi makanan kepada yang lain”; ”City McGee, cepat ke belakang panggung. Istri Anda baru saja melahirkan, selamat…”; ”Marilyn Cohen, di mana pun Anda berada, segera ke pusat informasi. Grey ingin menikahi Anda”. Pengumuman-pengumuman itu disambut seruan sukacita ratusan ribu orang.

DVD ini akhirnya bukanlah sekadar dokumentasi dari pergelaran musik, melainkan sebuah dokumentasi sosial dari lahirnya semacam zaman baru, new age—yang pada masa sesudahnya menjadi istilah bagi semacam spiritualisme baru. Sebuah spiritualitas, yang tidak sesangar agama, dan tidak seserius filsafat, yang berkembang sampai sekarang.

Minggu, 5 Juli 2009

One Response to “40 Tahun Woodstock”

  1. andrey de'luna Says:

    Mas yudith, aku dah nyari DVDnya ke beberapa kota selain Jakarta dan bandung…tapi aku belum bisa mendapatkan DVD itu…… Mas Yudith bisa tolong bantu aku, kira-kira dimana ya aku bisa mendapatkan DVD 40 tahun woodstock…..?

    Terima Kasih banyak Mas Yudith….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: