G-8 Sasaran Kritik dan Asa

L’Aquila, Selasa – Para pemimpin G-8 memulai pertemuan di L’Aquila, Italia tengah, Rabu ini dan berakhir Jumat (10/7). Para pemimpin jadi sasaran kritik sekaligus harapan agar bisa menyelesaikan berbagai persoalan global.

Seperti biasa, para demonstran sudah mulai beraksi dengan mengkritik dan mencoba mengganggu pertemuan G-8 di beberapa kota di Italia.

Di Dublin, Irlandia, Selasa (7/7), Sekjen PBB Ban Ki-moon kepada para wartawan mengatakan, ”Saatnya mengakhiri retorika-retorika indah dan langkah setengah hati.”

Ban meminta G-8 agar serius mengatasi pemanasan global serta meningkatkan bantuan bagi negara-negara miskin, yang turut menjadi korban krisis global.

Dari Paris, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyampaikan harapan-harapan kepada G-8. Kelompok ini meminta G-8 mengatasi pencucian uang, penegakan etika bisnis, mewujudkan pemerintahan yang baik. Keberadaan negara surga pembebasan pajak juga jadi sasaran kritik OECD untuk diatasi.

OECD menegaskan, nihilnya etika, maraknya korupsi oleh swasta dan bikrorat juga telah menjadi salah satu penyebab persoalan global, yang mengakibatkan ekonomi mengalami kemerosotan.

Dalam pertemuan Organisasi Perdagangan Internasional (WTO) di Geneva, Swiss, Senin (6/7), Presiden Bank Dunia Robert Zoellick juga menyampaikan harapan. Dia mengatakan, perdagangan internasional dapat memulihkan perekonomian global, termasuk menolong negara- negara miskin dari keterpurukan.

”Perdagangan adalah sektor pertama yang anjlok karena kontraksi konsumsi di negara berpendapatan tinggi. Akan tetapi, sebaliknya, sektor itu juga yang akan menjadi sektor yang paling cepat membaik jika perekonomian global pulih lagi,” ujar Zoellick. Karena itu, Zoellick menegaskan agar penuntasan masalah krisis menjadi penting.

Deglobalisasi

Dalam wawancara dengan harian Inggris The Financial Times, Dirjen WTO Pascal Lamy mengatakan, pemberian dana talangan bagi bank-bank besar dunia bisa membahayakan perdagangan global. ”Ada risiko, industri finansial akan berada dalam posisi deglobalisasi,” ujarnya.

Lamy tidak memberi keterangan lebih jauh soal pernyataannya itu. Dia mengatakan, deglobalisasi itu bisa mengancam kelancaran arus investasi global. ”Tidak akan ada perdagangan internasional tanpa ada arus investasi global,” kata Lamy.

Lamy juga memperingatkan G-8 agar mencegah proteksionisme, yang bisa terjadi akibat krisis global.

Dana talangan pada bank-bank dari pemerintahan masing-masing bisa mencegah terjadinya merger dan akuisisi antarnegara.

Niat G-8 mengatasi krisis ekonomi, dengan mengutamakan pembelian produk di negara masing-masing, juga menjadi ancaman bagi perdagangan global, salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dunia selama 60 tahun terakhir. (AP/Reuters/joe)

Rabu, 8 Juli 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: