Presiden Ke-7 Indonesia

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Hari ini, Rabu, 8 Juli 2009. Rakyat Indonesia yang sudah punya hak pilih diberi peluang sama untuk menentukan siapa presiden dan wakil presiden untuk masa jabatan 2009-2014.

Petani buta huruf, jenderal berbintang, petualang ekonomi yang bergaya dermawan, penderita cacat, semua mempunyai posisi setara dalam pilpres hari ini. Ini terjadi berkat prinsip demokrasi yang kita anut secara konstitusional.

Meski demokrasi Indonesia belum membuahkan kesejahteraan merata untuk seluruh lapisan masyarakat, sistem ini—dengan dalih apa pun—jangan ditelikung lagi pada masa-masa mendatang, sebagaimana dialaminya pada periode-periode yang lalu.

Sedia belajar

Demokrasi yang masih sakit ini harus cepat disembuhkan dengan kesediaan belajar sejujur-jujurnya mengapa sistem ini gagal mencapai tujuannya pada waktu lalu, bahkan sampai hari ini.

Tanpa mau berkaca diri secara berani dan tulus dalam memperbaiki demokrasi, sistem ini tidak mustahil telah dan akan membuahkan penderitaan berkepanjangan atas mereka yang lemah secara politik, sosial, dan ekonomi.

Pancasila jelas berpihak sepenuhnya kepada tegaknya keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia. Namun, ironisnya keadilan itu pulalah yang telantar selama sekian dasawarsa. Yang paling bertanggung jawab mengapa semuanya ini terjadi sudah tentu para elite bangsa yang telah lama mati rasa.

Nilai-nilai luhur Pancasila telah tergusur dari perilaku politik dan ekonomi mereka yang berada di puncak piramida kekuasaan yang dipertahankan secara tamak, kasar, dan tanpa malu. Kekuasaan tanpa visi moral-transendental pasti akan membutakan hati dan membelenggu akal sehat. Inilah di antara sumber utama mengapa bangsa ini masih harus tertatih-tatih dalam menentukan corak masa depannya di tengah-tengah persaingan global yang ganas.

Karena itu, kita harus membebaskan diri dari kebanggaan demokrasi prosedural dan teknikal semata, tanpa menghadirkan substansi sistem ini secara nyata dalam kehidupan kolektif kita berupa pemihakan total kepada kepentingan umum, khususnya kepada mereka yang masih berada di lingkungan marjinal yang jumlahnya puluhan juta, tersebar di seluruh Nusantara, dari perkotaan sampai ke kawasan pulau-pulau terpencil yang belum kenal cahaya listrik.

Mereka adalah warga negara Indonesia, sahabat kita, yang berhak hidup layak dan terhormat, sama dengan sebagian kita yang telah merasakan makna kemerdekaan dengan kebebasan, kenyamanan, dan pendidikan sampai ke tingkat yang tertinggi, dalam dan luar negeri.

Milik bangsa

Saya sungguh berharap, presiden ke-7 Indonesia dan wakil presiden ke-10 yang kita pilih hari ini benar-benar akan punya kepekaan tinggi terhadap keindonesiaan kita yang masih jauh dari keadilan dan kenyamanan.

Meski capres-cawapres yang semula diusung oleh partai-partai, sekali mereka menang dalam pilpres kemudian diarak menuju ke puncak kekuasaan melalui sumpah konstitusional yang sakral, pada saat itu mereka harus berhenti hanya menjadi milik partai-partai pengusung. Mereka telah menjadi milik bangsa secara keseluruhan. Karena itu, sikap dan perilakunya wajib mencerminkan pribadi kenegarawanan yang piawai, lurus, tidak hanya pandai ”bertanam tebu di bibir,” berpura-pura, dan jauh dari sikap partisan golongan tertentu. Hanya dengan pribadi piawai semacam ini sajalah kita dapat berharap bahwa bangsa ini akan keluar dari berbagai penyakit politik, sosial, dan ekonomi yang masih menggurita dalam kehidupan kita.

Jangan golput

Dari tiga pasang capres-cawapres yang telah kita kenal, tentu setiap kita punya penilaian subyektif terhadap mereka, dan itu sah. Namun, sebelum pencontrengan dimulai, tanyalah kepada nurani kita yang paling dalam, ke mana arah pilihan kita dalam pilpres kali ini. Jika misalnya belum ada calon ideal, janganlah golput, pilihlah yang terbaik di antara mereka, menurut pertimbangan kita, yang diperkirakan akan mampu untuk kian mengukuhkan keutuhan kita sebagai bangsa yang masih berusia muda dalam proses integrasi nasional yang memang belum selesai.

Selain itu, kita lirik pula siapa di antara para calon itu yang siap bekerja keras untuk sebuah keindonesiaan yang berdaulat penuh, bermartabat sebagai wujud kepercayaan diri yang tinggi. Dengan jumlah penduduk sekitar 235 juta, dibandingkan dengan 70 juta tahun 1945, Indonesia kini telah tampil sebagai bangsa keempat terbesar di muka bumi sesudah China, India, dan Amerika Serikat. Bangsa besar ini harus dipimpin oleh anak-anak bangsa yang punya visi jauh ke depan demi mengukuhkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika dan pluralisme dalam sebuah bingkai keindonesiaan yang adil, damai, dan asri.

Akhirnya, segala gesekan yang terjadi selama kampanye tidak boleh merusak rasa persatuan kita sebagai bangsa merdeka. Kita berharap, pilpres hari ini akan benar-benar berjalan secara damai, langsung, rahasia, jujur, dan penuh rasa tanggung jawab.

Selamat mencontreng. Jayalah Indonesia!

Ahmad Syafii Maarif 

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Rabu, 8 Juli 2009

One Response to “Presiden Ke-7 Indonesia”

  1. selly Says:

    jaya indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: