Madoff

Madoff adalah raja yang sesungguhnya. Ia dipadankan dengan Midas, legenda mitos Yunani kuno yang konon dipercaya bisa mengubah apapun yang disentuhnya menjadi emas. Madoff pun begitu. Ia dipercaya bisa melipatgandakan uang. 

Tapi kini Madoff telah kehilangan tahtanya. Sebagai pimpinan di pusat perdagangan valuta asing di Wall Street Amerika, ia memegang kendali sepenuhnya atas perdagangan uang dan investasi jutaan nasabah perorangan dan nasabah komunitas yang menanam uang di lembaganya. 

Bernard Madoff diduga mengemplang uang nasabah dan digunakan untuk keperluan pribadi dan istrinya. Awalnya, dugaan itu mengejutkan, tapi pengakuan Madoff membuat dunia gempar.

Ia mengakui 11 tuduhan penipuan, penggelapan, dan pencurian. Deretan korbannya juga tidak sedikit. Mulai dari selebriti di Hollywood, bank besar dan terkenal di seantero dunia, bahkan sampai yayasan amal Yahudi. Tidak hanya itu, orang biasa dengan investasi pas-pasan dan berharap dapat hidup tenang pada hari tua juga ikut menjadi korban Madoff. Saat ini mereka tengah menghadapi kehancuran finansial akibat sepak terjang Madoff. 

Madoff di persidangan menyatakan bahwa miliaran dollar AS yang diserahkan ke tangannya untuk dikelola selama tiga dekade tidak satu sen pun diinvestasikan di pasar modal. Dia hanya menumpuk dana tersebut pada rekening di Bank Chase Manhattan. (Kompas, 30 Juni 2009)

Madoff pun divonis 150 tahun penjara. Inilah kisah penipuan terbesar sepanjang sejarah finansial. 

Perdagangan uang di dunia maya yang mulai muncul sejak abad 19 adalah fenomena paling mengerikan bagi peradaban manusia. Orang bertransaksi atas sesuatu yang tak kasat mata. Uang bergerak dari Eropa, melewati Asia sebentar, singgah di Afrika dan menetap di Meksiko. Uang hilir mudik di seantero jagat dengan caranya sendiri. Mereka yang bertransaksi hanya bermodalkan laptop di pojok kamar dan jaringan internet. Dalam sedetik ketukan keyboard laptop, uang berpindah pemilik, keuntungan diraup. 

Selayaknya sebuah perdagangan mengenal untung-rugi, jenis bisnis investasi inipun mengenal hal yang sama. Perbedaan mendasar adalah tidak ada tatap muka dan tidak ada barang yang diperjualbelikan. Semuanya maya, semuanya berkelebatan di awang-awang. 

Kondisi ini memperjelas keganasan individualisme jaman modern. Naluri dagang yang paling kasar dan brutal tersaji dalam bisnis jual-beli uang ini. “Tak adanya regulasi atas berbagai malapraktik keuangan niscaya berakibat pada spekulasi ganas dan kebuasan pengejaran laba”. Demikian Amartya Sen, pemenang Nobel Ekonomi mengungkapkan kegeramannya.

Ini bukan sekedar hiruk-pikuknya lalu-lintas uang, melainkan perubahan mendasar tentang cara hidup, rasa, pikir, dan tindakan. Artinya, globalisasi bukan hanya rangkaian tindakan (belanja, kuliah, menonton TV) tetapi juga cara baru memandang persoalan. 

Dengan serta-merta dunia menjadi mengglobal. Jarak dan waktu telah kabur maknanya. Perjumpaan menjadi kering arti.

Dunia menjadi mampat, mungil. Manusia lalu terus-menerus hanya memikirkan dirinya sendiri. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: