Misa Bahasa Latin di Katedral

 Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. Ekaristi merupakan tanda dan sarana, artinya sakramen persatuan dengan Allah dan kesatuan antarmanusia. Ekaristi tidak hanya menghubungkan masing-masing orang secara pribadi dengan Allah, tetapi juga menjadi ikatan antara manusia sendiri. Keagungan dan kesakralan Ekaristi tentu dirindukan oleh banyak umat untuk semakin memperdalam iman. Tata perayaan, ucapan, gerak dan sikap umat yang sesuai dengan aturan dalam liturgi Katolik perlu terus disosialisasikan agar suasana khusyuk dan khidmat dalam Misa dapat tercipta.

Berkaitan dengan itu, pada Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam, Minggu (25/11) lalu, Ekaristi dibawakan dalam nuansa yang berbeda yaitu dalam bahasa Latin dengan panduan dari buku Ordo Missæ (Tata Perayaan Ekaristi) yang merujuk pada keputusan Konsili Vatikan II tentang tata perayaan Ekaristi. Lantunan lagu Gregorian yang dibawakan dengan indah memperkuat nuansa itu. Misa bahasa Latin ini dibawakan oleh Uskup Surabaya Mgr Sutikno bersama Vikjen Rm Edi Laksito dan Pastor Paroki HKY Rm Eko Budi Susilo.

Meski keseluruhan misa dibawakan dalam bahasa Latin, namun prosesi berjalan seperti misa mingguan biasa. Bacaan pertama, kedua dan Injil disampaikan dalam bahasa Indonesia. Sikap umat yang benar selama liturgi sabda ini disebutkan dalam lembaran khusus di dalam buku Ordo Missæ, yaitu mendengarkan, bukan membaca teks (atau bahkan membaca kitab suci sendiri). Begitu juga pada saat konsekrasi, saat tubuh dan darah Kristus ditunjukkan oleh Imam, sikap yang benar adalah melihatnya, bukannya menunduk memberi hormat. Sikap menyembah dengan mengatupkan dan mengangkat kedua tangan, malahan akan menghalangi pandangan ke arah tubuh dan darah Kristus, oleh karena itu sebenarnya kurang tepat. Penghormatan dapat dilakukan setelahnya, dengan cara membungkukkan badan atau menundukkan kepala, bersamaan dengan Imam yang saat itu berlutut untuk menghormati.

Saat doa Bapa Kami, banyak umat ikut merentangkan tangan. Sebenarnya sikap merentangkan tangan dalam tata cara perayaan Ekaristi  Katolik hanya diatur untuk Imam, umat tidak perlu mengikutinya.

Dalam homilinya, Uskup Sutikno menyampaikan bahwa Misa bahasa Latin bukan sekedar untuk mengagungkan Ekaristi melainkan untuk mengenal kembali kekudusan Ekaristi yang telah berabad-abad menjadi tradisi yang sakral bagi umat Katolik. Uskup juga menyampaikan bahwa peggunaan bahasa Latin ini bukan untuk membuat umat bingung, tapi agar umat terbantu lebih fokus dan konsentrasi menghayati Ekaristi. Uskup juga mengingatkan tentang seruan Paus Benediktus XVI dalam ensiklik Sacramentium Caritatif bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan serta perutusan Gereja.

“Semoga apa yang kita alami dalam Ekaristi kita kali ini, yang terbatas oleh bahasa manusia, dijadikan kekuatan oleh Kristus sendiri agar kita semakin menghayati misteri Iman kita,” ujar Uskup menutup homilinya.

“Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku,” demikian Yesus menutup perjamuan malam terakhir bersama murid-muridNya, dan kalimat inilah yang membawa Gereja Katolik dalam tradisi panjang Ekaristi nan sakral dan agung untuk merayakan misteri wafat dan kebangkitan Kristus.

Deo Gratias. Syukur Kepada Allah.

 

Yudhit Ciphardian

Minggu, 2 Desember 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: