Republik Kita Setelah Paskah

Apakah sesungguhnya akar dari tumpukan masalah yang ada di republik ini? Kejadian-kejadian yang tidak manusiawi dan di luar nalar terus mengisi hari-hari kita. Bayi-bayi yang kelaparan muncul di televisi, disusul dengan kisah ibu-anak yang bunuh diri karena terlalu miskin.

Belum selesai sampai di situ, penggusuran dan kisah miris para pengungsi membayangi saat menjelang tidur kita. Berturut-turut kegetiran hidup menerpa lewat kasus krisis pangan, gizi buruk, kelangkaan minyak tanah atau harga sembako yang terus melambung.

Banyak orang di negeri ini sudah tidak mampu lagi memenuhi remah-remah hak-hak dasar mereka sebagai warga negara dalam soal kebutuhan pokok (pangan, papan, sandang, dan pendidikan), dalam porsi yang paling minimal. Pendeknya, sedang terjadi proses pemiskinan oleh negara terhadap warganya.

Selingan dari berita-berita yang disebutkan diatas adalah hiruk-pikuk politik menjelang Pemilu 2009. Lobi-lobi dan sidang-sidang yang panjang menjadi bumbu berita ketatnya partai politik meracik strategi merebut kekuasaan. Akrobat politik yang mereka pamerkan mungkin menghibur, tapi sesungguhnya itu cerminan gagapnya kita terhadap demokrasi. Mereka “bertarung” merumuskan UU Pemilu yang baru bagi kepentingan mereka masing-masing seolah-olah itu berhubungan dengan kesejahteraan rakyat. Selingan yang tak kalah menggelikan adalah tentang presiden dan wakilnya yang sibuk mengundang wartawan karena mereka akan menonton bioskop.

Pemberantasan korupsi yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit akut bangsa ternyata dicoreng oleh aparatnya sendiri. Seorang jaksa tertangkap tangan menerima suap dari seorang yang merupakan kerabat dari pelaku korupsi.

Di kota-kota besar, macet dan banjir tetap susah teratasi. Dengan mudah pemerintah berkelit bahwa ini adalah soal mental dan budaya masyarakat yang tidak tertib. Padahal, sebenarnya ini soal ketidakpercayaan masyarakat pada hukum, aturan dan para aparat penegaknya. Orang-orang kecil pasti menganggap hukum dan aturan tidak dibuat dengan serius karena banyak golongan masyarakat lain yang masih kebal hukum.

Di Surabaya, orang-orang memasang foto dirinya besar-besar di pinggir jalan, merayu massa memilih dirinya karena cintanya pada kekuasaan. Aturan tentang masa kampanye Pilkada yang mereka buat ternyata mereka langgar sendiri. Tak seorangpun berani menegur karena ini hanyalah rekayasa bersama.

Kutukan apa yang sebenarnya menimpa kita? Orang-orang begitu menikmati kekuasaan dan buas memburunya justru di saat kehidupan bersama sedang terancam. Orang-orang menjadi individualis justru di saat kohesi sosial sedang keropos. Orang-orang begitu bernafsu mengejar kesuksesan berwujud harta-benda justru di saat hakikat kemanusiaan kita sedang dicabik-cabik oleh modernisasi dan globalisasi.

Lalu di mana umat beragama? Masihkah praktek iman hanya berupa ritual keagamaan? Dalam renungan Paskahnya, Mgr AM Sutrisnaatmaka, Uskup Palangkaraya berpesan, “dengan amanah Paskah,…kita semua diajak, melintasi batas agama dan suku, untuk berbagi meringankan keprihatinan kemanusiaan ini. Paskah kiranya mengajak kita semua bangkit melawan kematian dan memelihara tunas-tunas kehidupan. (Kompas, 22 Maret 2008)

Republik kita setelah Paskah tidak banyak berubah. Mungkin kita hanya perlu mengingatkan sepatah kata pada para pemimpin; menderitalah bersama rakyat!

 

Yudhit Ciphardian

Minggu, 6 April 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: