Mengenang Corazon Aquino

Oleh Wayan Marianta

Corazon AquinoRakyat Filipina dan pencinta demokrasi berduka atas kematian Corazon ”Cory” Cojuangco Aquino (1/8/2009). Warisan inspirasi apa dari ikon demokrasi ini?

Di mata Presiden Ferdinand Marcos dan kroninya, Cory Aquino ”hanya” seorang ibu rumah tangga. Ungkapan itu muncul saat Cory menantang Marcos pada pemilihan presiden (7/2/1986).

Marcos mengumumkan Snap Presidential Election secara tiba-tiba, November 1985, untuk memamerkan kepada dunia dia masih memegang mandat rakyat. Marcos yakin oposisi tidak akan mampu menandinginya. Benigno ”Ninoy” Aquino Jr, pemimpin karismatik oposisi, ditembak mati tahun 1983 saat menginjakkan kaki di Bandara Internasional Manila sepulang dari pengasingan politik di Boston, AS.

Kalkulasi politik Marcos meleset. Kemartiran Ninoy Aquino menyulut amarah rakyat terhadap Sang Tiran yang melanggengkan kekuasaan selama 20 tahun dengan teror dan kelicikan. Oposisi berhasil membangun koalisi dengan menempatkan Cory, istri Ninoy, sebagai simbol gerakan moral melawan tirani.

Marcos ditumbangkan melalui people power revolution. Cory, ibu rumah tangga yang sebetulnya enggan terjun ke pentas politik, dilantik menjadi presiden.

Konsolidasi demokrasi

Presiden Cory mengemban dua agenda utama: konsolidasi demokrasi dan pemulihan ekonomi. Di bawah pemerintahannya (1986-1992), kebebasan pers dipulihkan. Tahanan politik pada masa Marcos dibebaskan. Konstitusi baru disahkan Februari 1987 melalui referendum, menggantikan Konstitusi 1973, produk rezim otoriter Marcos. Pemilihan anggota legislatif dan pemerintah daerah berjalan demokratis meski ditandai kebangkitan figur-figur politikus dari berbagai keluarga yang telah lama mendominasi pentas politik Filipina.

Tidak mudah menjadi presiden pada masa transisi. Penegakan pemerintahan sipil diganggu dengan tujuh kali upaya kudeta, dari Juli 1986 sampai Desember 1989. Ironisnya, kudeta-kudeta itu tidak hanya dilakukan kelompok militer pendukung Marcos, tetapi juga kelompok militer yang menjatuhkan Marcos.

Pemulihan ekonomi dihadang banyak kendala, antara lain instabilitas politik akibat kudeta, gempa bumi, dan letusan Gunung Pinatubo. Di bawah tekanan IMF, Bank Dunia, dan AS, Cory memutuskan membayar seluruh utang peninggalan Marcos, 27,2 miliar dollar AS plus bunga, meski 10-15 miliar dollar AS dari utang itu masuk ke rekening pribadi rezim lama (Abinales dan Amoroso, 2005:233).

Pembayaran utang mencapai 3,5 miliar dollar AS per tahun (sekitar 10 persen PDB). Tahun 1987, 50 persen budget nasional untuk membayar utang (Bello, 2004:14). Akibatnya, kemampuan negara menstimulasi pemulihan ekonomi menjadi lumpuh.

Cory bukanlah presiden yang sempurna. Keputusannya untuk mempertahankan pangkalan militer AS (Subic dan Clark) dinilai melemahkan kedaulatan negara. Keputusan itu dibuat mengingat peran penting militer AS dalam kejatuhan Marcos dan pengamanan masa transisi. Kudeta militer berdarah Desember 1989 berhasil dilumpuhkan antara lain berkat dukungan militer AS.

Cacat pemerintahan Cory pada kelemahan mengimplementasi program land reform yang dimandatkan Konstitusi 1987. Saat program land reform membidik 6.000 hektar tanah perkebunan Hacienda Luisita milik keluarga besarnya di Tarlac, Presiden Cory gagal memberi dukungan politis yang diperlukan untuk mengeksekusi program itu.

Meski pemerintahannya mengandung kecacatan, Cory mewariskan demokrasi dan mampu menolak godaan penyalahgunaan kekuasaan. Cory adalah satu-satunya presiden yang tidak mencoba memperpanjang masa jabatan dengan mengamandemen Konstitusi 1987 yang membatasi jabatan presiden untuk satu term (6 tahun).

Pesan terakhir

Keluarga Cory menolak tawaran pemakaman kenegaraan dari pemerintah. Keputusan itu rupanya terkait partisipasi Cory, belakangan ini, dalam gerakan menuntut Presiden Gloria Macapagal-Arroyo mundur karena dugaan korupsi dan kecurangan dalam pemilu 2004.

Pesan lain, Cory ingin dimakamkan di samping suaminya, Ninoy, sebagai warga negara biasa. Dia tidak memandang dirinya sebagai pahlawan, tetapi warga biasa yang diberi kepercayaan memimpin negara. Setelah mengemban kepercayaan sebagai presiden, Cory kembali hidup sebagai rakyat biasa dan menolak diperlakukan istimewa. Kerendahan hati. Itulah yang perlu diresapkan sebagai inspirasi bagi para pemimpin.

Wayan Marianta 

Mahasiswa Pascasarjana University of the Philippines

Rabu, 5 Agustus 2009

Advertisements

One Response to “Mengenang Corazon Aquino”

  1. ALIMIZAR ARIYOGA Says:

    Selamat pagi,
    saya alimizar ingin bertemu dan berkenalan dengan pak Wayan Marianta,
    pak,saya lagi menulis proposal BAB1 (praskrip ) dengan tema revolusi EDSA, maka dari itu saya meminta bantuan dan bimbingan dari bapak untuk menambah wawasan saya mengenai revolusi EDSA.
    TERIMA KASIH
    WASSSALAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: