Martha Tilaar

Lentera Jiwa Yang Bersinar Terang Dari Sebuah Garasi

Martha TilaarSeorang guru sejarah tomboy  yang tidak peduli akan kecantikan pada akhirnya akhirnya bisa membangun kerajaan kosmetik  bertaraf international dengan memproduksi beragam jamu dan kosmetika untuk mempercantik perempuan Indonesia, dialah Martha Tilaar.

Dilahirkan dalam keadaan fisik yang tidak begitu sehat, tak kurang tersedia 13 orang dokter yang merawat Martha. Karenanya sejak kecil Martha diajarkan cara untuk menyelesaikan problem oleh ibunya. Dari sistem pendidikan tersebut akhirnya diluar dugaan Martha tumbuh menjadi anak yang sehat.

Tumbuh menjadi perempuan yang tomboy, bandel dan lincah membuat Martha sangat tidak suka merawat diri jika dibandingkan saudara lainnya. Hobi bermain layangan dan berenang di sungai membuat kulit Martha tidak sehat, rambut yang panjang memerah semua, wajah pun tak karuan. Ibunya seringkali menegur mengingatkan Martha agar lebih peduli merawat diri. Apalagi Martha, yang di saat kuliah mengambil Jurusan Sejarah IKIP Negeri Jakarta dan lulus tahun 1963, sebagai seorang guru diingatkan akan sering bertemu dan tampil di hadapan murid-murid. Dengan diantar sang ibu, Martha dipaksa mengikuti les tata kecantikan ke Titi Purwosoenoe. Yang menjadi unik, sejak saat itulah Martha mulai jatuh cinta dan memastikan lentera jiwanya terhadap dunia kecantikan.

Ketika ia mengikuti suaminya tugas belajar di negeri Paman Sam, Martha tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk bisa menambah pengetahuannya tentang dunia kecantikan. Ia pun belajar kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, AS. Begitu lulus dari akademi kecantikan Martha segera membuka praktek salon kecantikan di negeri Paman Sam itu. Ia membuat selebaran semacam brosur sederhana, mempromosikan jasa layanan salonnya. Berbagai usaha promosi dilakukan seperti masuk ke kampus-kampus, mendatangi rumah-rumah mantan dosen untuk mendandani para istrinya. Begitu pula kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia, atau ibu-ibu yang mengikuti suaminya tugas di luar negeri. Martha juga menyempatkan diri melamar bekerja sebagai salesgirl produk kosmetika Avon. Setiap sore ia keluar masuk asrama mahasiswa dan mengetuk pintu untuk lalu berteriak lantang, “Avon Calling!”

Ketika kembali ke Indonesia Martha segera ingin membuka salon. Karena belum mempunyai rumah sendiri “Martha Salon” miliknya yang pertama menumpang di garasi rumah orangtuanya, di Menteng, Jakarta Pusat. Di sebuah ruangan berukuran 6×4 meter, Martha Salon ia dirikan persis tanggal 3 Januari 1970. Di sini ia sekaligus membuat pula produk-produk kecantikan dari bahan alam. Sambil memulai penggunaan merek dagang barunya Sariayu Martha Tilaar, merek yang jika diartikan “Sarinya Wong Ayu”.

Perjalanan bisnis Martha Tilaar mengalami jatuh-bangun dalam usaha. Walau sukses dan terkenal di negeri asing, ia justru pernah merasakan sebuah kepahitan di tanah air. Itu terjadi ketika ia hendak menyewa dan membuka gerai jamu dan kosmetika di beberapa mall dan plaza terkemuka di Jakarta, persis di pusat perkantoran dan rumah tinggal kalangan berduit. Ia ditolak menyewa tempat. Karena dianggap produknya tidak memiliki image. Tapi Martha tidak pernah mau menyerah apalagi berputus asa.

Dari situ akhirnya Martha Tilaar mendirikan Puri Ayu Martha Tilaar, sejak Mei 1995, sebagai gerai jamu dan kosmetika Sariayu sekaligus berfungsi sebagai pusat pelayanan konsumen di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Gerai ini lalu berkembang pesat memasuki kota-kota besar lain di Indonesia.

Tidak hanya berhenti disitu, tapi Martha kemudian ingin memberdayakan dan berbuat banyak kepada masyarakat. Ia melahirkan konsep community trade, salah satu bentuk pengembangan masyarakat melalui industri kerajinan, setelah ia melihat kerja keras seorang ibu muda yang berusaha menafkahi keluarganya. Komunitas ini telah berhasil mengumpulkan 142 perajin di Sentolo, Yogyakarta bernama Prama Pratiwi Martha Gallery.

Martha melahirkan konsep community trade bersama rekannya, yang menyediakan segala fasilitas produksi industri kerajinan. Hasilnya sangat memuaskan. Ketekunan para perajin dan tekad mau berkembang membuat mereka cepat berhasil. Produk dari para perajin sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor ke Perancis, Australia, dan Amerika.

Ia pun mendirikan Yayasan Martha Tilaar. Ia mendidik banyak perempuan dan ibu-ibu tentang kecantikan dan bertujuan agar mereka mengerti kecantikan sehingga bisa merawat diri. Namun yang terutama agar mereka mempunyai keterampilan tentang kecantikan, sesuatu yang pernah banyak menolong wanita di saat krisis melanda termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan wanita maupun laki-laki di banyak perusahan lain. Bagi Martha Tilaar perempuan adalah pemersatu yang sangat besar perannya bagi keutuhan bangsa. Karena itu ia tak ingin perempuan terbelakang dalam soal pendidikan.

Peraih gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dalam bidang “Fashion and Artistry” dari World University Tuscon, Arizona, AS tahun 1984, ini memulai bisnisnya dari titik nol. Dari sebuah salon kecantikan sederhana, berkembang menjadi Martha Tilaar Group. Dimana usaha ini kini memayungi 11 anak perusahaan dan mempekerjakan sekitar 6.000 karyawan. Dari sebuah kerja keras dan Lentera Jiwa yang selalu bersinar terang, Martha akhirnya sanggup berbagi Lentera Jiwanya kepada ribuan perempuan lainnya [dr.m]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: