Whoopi Goldberg

Kasih Ibu Yang Menuntun Terang Lentera Jiwa

Whoopi GoldbergKasih ibu tidak pernah terbatas. Dan karena kasih ibu pula, Whoopi Godlberg bisa menemukan Lentera Jiwanya dengan perjuangannya yang luar biasa.

Terlahir dengan nama Caryn Elaine Johnson, 13 November 1943, Whoopi tinggal di Mahnhattan bersama dengan ibunya dan adik lelakinya, Clyde. Ayahnya meninggalkannya ketika ia masih berusia sangat muda dan membuat ibunya harus bekerja sebagai perawat untuk membiayai keluarga.

Sebagai gadis remaja, Whoopi tidak pernah mengenal kata `keterbatasan` dalam mencapai tujuan dan cita-citanya. Dan semua itu karena tempaan dari sang ibu. Walaupun keluarganya termasuk kurang mampu, ibunya selalu mengingatkan kepada semua anaknya bahwa tidak ada yang tak mungkin dilakukan karena keterbatasan financial atau karena warna kulit sekalipun. Dan sebagai ibu, ia akan melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Biasanya, ibu Whoopi mengajak anak-anaknya untuk melihat pertunjukkan artis-artis terkenal seperti James Earl Jones, bahkan mengirimkan Whoopi dan adik-adiknya untuk mengikuti kursus acting di Hudson Guild. Dan inilah awal mulanya Whoopi diperkenalkan kepada dunia seni dan drama yang akhirnya menjadi lentera jiwanya di kemudian hari.

Kecintaan Whoopi akan film-film lama sangat besar. Seringkali ia pulang cepat dari sekolah dan lupa untuk tidur hanya untuk bisa menonton film-film Hollywood yang diputar di televisi. Baginya, menonton film adalah salah satu pelampiasannya untuk bisa tetap terus berkhayal dan terlepas dari dunia nyata. Apalagi di sekolahnya, ia seringkali menjadi bahan olok-olokan temannya dan dijauhi karena penampilan dan warna kulitnya. Apalagi sifat pemalu dan kesukaannya akan music-musik Motown pun semakin membuatnya menjadi susah untuk bergaul dengan lingkungan sekitar. Tidak hanya itu, Whoopi pun dinyatakan mengalami suatu kondisi dyslexia yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah setelah sempat beberapa minggu masuk sekolah menengah atas di tahun pertamanya.

Karena merasa tidak ada yang bisa menerima keadaannya tersebut, Whoopi akhirnya kabur dari rumah dan tinggal di jalanan. Ia bahkan sempat terjerumus dalam pemakaian obat-obatan terlarang. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti program rehabilitasi di sebuah klinik di Manhattan setelah melihat beberapa temannya dan bintang-bintang pujaannya meninggal karena pemakaian obat-obatan terlarang.

Setelah keluar dari klinik, Whoopi menikahi salah satu konselornya di klinik tersebut, yaitu Alvin Martin, pada usia 18 tahun dan langsung mendapatkan anak. Tapi karena usia yang masih muda, pertengkaran seringkali terjadi. Selain karena faktor keuangan, Whoopi pun masih berambisi untuk mengejar cita-citanya dalam dunia akting.Sampai pada akhirnya, Whoopi membawa anaknya pergi ke California dengan menumpang mobil seorang temannya yang sekaligus mengakhiri perkawinannya selama 2 tahun.

Sesampainya di San Diego, untuk bisa menghidupi ia dan anaknya, Whoopi pun bekerja serabutan. Selain mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sekolah kecantikan, Whoopi pun bekerja di sebuah pemakaman sebagai perias jenazah. Dan tentu saja gaji yang didapat tidak mencukupi untuk kebutuhannya beserta bayinya.

Walaupun dalam kondisi yang kekurangan, tapi Whoopi tidak pernah menyerah. Ia selalu mengikuti setiap audisi yang diadakan. Pada akhirnya, semuanya terbayar ketika ia bertemu dan bergabung bersama sebuah perkumpulan actor drama di San Diego Repertory Theatre, yang sekaligus memberikannya kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya dalam drama bahkan menjadi seorang komedian.

Whoopi kemudian berpasangan dengan seorang teman prianya melakukan pertunjukkan standing comedy di beberapa klub, mengasah bakatnya yang banyak terispirasi oleh Mike Nichols dan Elaine May, para komedian yang terkenal di era tahun 60an. Penampilan solo perdananya terjadi tanpa sengaja terjadi ketika ia terpaksa naik panggung setelah partnernya

Dan tak diduga, ternyata penampilan solonya itu banyak mengundang pujian. Sebuah perusahaan teater di Berkeley sangat menyukai penampilan solonya dan membujuk agar Whoopi mau membuat acara sendiri dengan nama Whoopi Goldberg Show atau The Spook Show. Yang membuatnya berbeda dari komedian lainnya adalah cerita-cerita lucunya justru terlahir dari kisah satir dan getir kehidupannya di masa lalu.

Perjuangan Whoopi mulai membuahkan hasil. Media mulai banyak menulis tentang pertunjukkannya yang berbeda dan ia mulai banyak mendapatkan undangan untuk bermain di berbagai klub. Di tahun 1984, pertunjukkannya di New York menghasilkan review yang luar biasa di New York Times dan menarik perhatian dari salah satu inspirasinya, Mike Nichols untuk bekerja sama dengannya di proyek terbarunya The Graduate. Mike bahkan bersedia mensponsori show Whoopi dimanapun ia mau, dan tak berapa lama, nama Whoopi pun berkibar di Broadway.

Whoopi pun mulai banyak dilirik sutradara besar untuk diajak kerjasama. Film pertamanya bersama sutradara besar Steven Spielberg `The Color Purple` menjadi hits bahkan perannya di film berikutnya Ghost memenangkan Oscar dan Academy Award yang sekaligus menjadikannya sebagai aktris kulit hitam kedua yang memenangkan pernghargaan tersebut. Dan sejak tahun 1985, ia telah tampil di 80 film dan televise sebagai pembawa acara, penulis buku anak-anak, aktris komedi, stand up comedy dan masih banyak lagi.

Layaknya Whoopi merefleksikan masa lalunya, ia bangga memilih untuk menjadi yang berbeda. Walaupun ia pernah mengalami masa-masa sulit dan memilih jalan yang berbeda, semuanya malah menjadi bahan pelajaran berharga bagi kehidupannya. Berani berbeda dan berani tetap terus mempertahankan Lentera Jiwanya disertai dengan kasih ibu yang menuntunnya, membuat Whoopi menjadi aktris yang tiada duanya. [dr.m]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: