Teror Itu Bukan Ajaran Islam

Oleh : Ilham Khoiri & Ninuk Mardiana Pambudy

Said Agil SirajSaid Aqil Siroj (56), kiai dan doktor lulusan Universitas Ummu al-Qura, Mekkah, gundah melihat citra Islam dikaitkan dengan terorisme. Menurut dia, bom bunuh diri yang merenggut banyak nyawa jelas melenceng dari spirit Islam. Kekerasan atas nama jihad itu dosa besar dan itu muncul akibat pemahaman agama yang keliru dan sepotong-sepotong.

Islam itu agama yang bercita-cita membangun tamaddun atau peradaban. Peradaban itu mengembangkan prinsip-prinsip kemanusiaan universal demi menegakkan kedamaian di muka bumi untuk masyarakat lintas agama, lintas etnis, dan lintas negara,” Said Aqil Siroj.

Ditemui di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), Salemba, Jakarta Pusat, Rabu dan Kamis, 19-20 Agustus lalu, Aqil begitu sapaannya, terlihat santai. Lelaki ramah ini mengenakan batik dan peci hitam, seperti umumnya pengurus NU di gedung itu. Sambil ngobrol sembari sesekali menyeruput kopi hitam, dia ramah menyalami beberapa tamu.

Salah satu ketua PB NU itu fasih menukil khazanah literatur klasik seraya membandingkannya dengan kondisi sosial terkini. Lelaki kelahiran Cirebon, 3 Juli 1953, ini besar di lingkungan pesantren, kemudian selama 13 tahun belajar di Mekkah, Arab Saudi. Pemahaman seputar kondisi sosial-modern dipelajari secara otodidak dan dari pergaulan luas, termasuk mengikuti sejumlah konferensi internasional.

Aqil mengajak kaum Muslim untuk memahami Islam lebih utuh. Caranya, dengan mencermati kembali sejarah dan cita-cita Islam. Menurut dia, Islam bukan sekadar membawa aqidah (doktrin keimanan) dan syari’ah (ritual untuk menyembah Allah), tetapi juga mengemban misi tamaddun: mengembangkan peradaban lewat ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan akhlak mulia.

Tengok saja sejarah Nabi Muhammad saat membangun kota Yatsrib pada Abad ke-7 Masehi sehingga menjadi kota berperadaban yang terkenal sebagai Madinah—dari kata tamaddun. Di sana, Nabi menemukan masyarakat yang plural. Ada kaum Muslim pendatang (muhajirin), kaum Muslim pribumi (anshar) dari suku Aus dan Khajraj, dan kaum non-Muslim (dari suku Bani Quraidhah, Bani Qoinuko’, dan Bani Nadir).

”Nabi mengumpulkan simpul-simpul kelompok itu untuk menyepakati konsensus Madinah. Disebutkan, kaum muhajirin, anshar, dan Yahudi—asalkan satu pandangan, satu visi-misi, satu garis perjuangan—sesungguhnya adalah umat yang satu,” katanya.

Mereka semua bebas melaksanakan aktivitas masing-masing. Dilarang keras memusuhi siapa pun, kecuali jika berbuat zalim. ”Jadi, orang tak boleh dianggap musuh hanya karena beda agama, etnis, dan politik.”

”Ingat, Nabi tidak mendeklarasikan negara Islam. Bahkan, Al Quran tidak secara eksplisit menyebut kata umat Islam’ sebagai perintah membangun bentuk negara formal. Al Quran hanya menyebutkan kata ummatan wasatan (umat moderat) dan khaira ummat (umat ideal).”

Sebagai agama terakhir, Islam mempunyai orientasi lebih mulia, yaitu membangun tamaddun ketimbang sekadar jadi konsep negara. Dengan prinsip dasar tauhid lailaha illah Allah, Islam menolak hegemoni kekuasaan apa pun, selain Allah. Prinsip berikutnya, antara lain, keadilan, pencerahan, pencerdasan, dan kemanusiaan.

”Saat kembali ke Mekkah pada akhir hayatnya, Nabi berpidato. Wahai manusia dan bukan wahai umat Islam, nyawa, harta, dan martabat kalian semua suci, dilindungi. Nabi menyebutkan, hari itu adalah hari kasih sayang (al-yaum al-marhamah). Siapa pun yang membunuh, bahkan ada riwayat mengatakan menyakiti, orang non-Muslim, maka dia berhadapan dengan Nabi.”

Dengan hikmah

Menurut Aqil, cita-cita tamaddun itu disebarkan ke seluruh dunia lewat dakwah tanpa paksaan. Al Quran menekankan, la ikraha fiddin, tak ada kekerasan dalam agama. ”Pernyataan ini bisa dibalik, la dina filikrah, tidak ada agama dalam kekerasan. Kalau ada kekerasan, itu jauh dari agama. Kalau agama, mestinya jauh dari kekerasan.”

Itu selaras dengan ayat Al Quran lain bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmat, arif, simpatik, dan dengan dialog ilmiah yang baik.

Prinsip itu dijalankan para wali di Tanah Jawa, terutama pada masa transisi Hindu ke Islam. Unsur-unsur Islam disisipkan dalam budaya lokal, seperti wayang, cara hidup sehat dan bersih, gamelan, gendengan, atau tradisi selamatan. Ribuan kata Arab diserap bahasa Melayu, yang kemudian menjadi bahasa Indonesia. Contohnya, nama-nama hari, majelis, dewan, rakyat, hukum, musyawarah, hakim, unsur, dan banyak lagi.

”Semua itu bentuk dakwah bil hikmat atau dengan penuh kebijaksanaan.”

Bagaimana dengan ayat-ayat Al Quran lain yang secara tekstual seperti mendorong kekerasan?

Kita harus tahu konteks turunnya ayat. Saat Madinah dikepung seluruh suku Arab dalam perang Ahzab, Nabi menggali parit di sekeliling kota. Dalam keadaan terdesak, turunlah ayat-ayat yang memompa semangat kaum Muslim, seperti ’bunuhlah mereka yang membunuhmu’. Jelas sekali, perang itu untuk mempertahankan diri, bukan memusnahkan orang lain.

Perang itu pilihan terakhir. Itu pun harus dijalankan dengan fatsun tertentu. Saat melepas pasukan ke perbatasan Romawi, misalnya, Nabi berpesan, jangan bunuh orang tua, perempuan, anak kecil, orang sedang beribadat di gereja, jangan rusak kebun kurma dan kebun anggur. Yang boleh dibunuh hanya tentara di medan perang.

Apa sebenarnya makna jihad?

Jihad itu menyebarkan tauhid, mengajak umat Islam beribadah, dan bila perlu angkat senjata. Memberi perlindungan bagi siapa pun orang baik, termasuk non-Muslim, itu juga termasuk jihad.

Pada zaman Nabi, orang yang tak masuk Islam dilindungi. Al Quran memerintahkan untuk berbuat baik pada orang non-Muslim yang tidak memerangi kaum Muslim dan tidak mengusir kaum Muslim dari negerinya.

Indonesia

Bagi Aqil, kondisi masyarakat Muslim di Indonesia sekarang jauh dari cita-cita tamaddun. Meski begitu, bentuk negara demokrasi dengan pemilihan presiden langsung seperti sekarang ini sejalur dengan visi kaum ahlussunnah. Yang terpenting, negara menjalankan prinsip-prinsip kemanusiaan sebagaimana ditekankan Islam, seperti keadilan, penegakan hukum, kemakmuran bagi masyarakat, dan pencerdasan kehidupan.

”Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1930 memutuskan, kalau merdeka nanti, Indonesia akan dijadikan negara Darussalam, negara damai. Bukan darul Islam. Negara damai itu mencakup suku, budaya, dan kelompok yang ada dalam satu kesatuan bangsa dan negara.

”Indonesia bukan negara Islam, juga bukan negara kafir, tetapi negara tamaddun. Tak usah pakai simbol agama apa pun, asal prinsip-prinsip kemanusiaan sesuai spirit Islam dijalankan,” kata Aqil.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, banyak gerakan yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, seperti DI/TII atau PRRI. NU berpendapat, semua gerakan separatis yang ingin memisahkan dari NKRI—atas nama apa pun, termasuk Islam, Kristen, atau PKI—harus diperangi. Itu namanya bunghot, sparatis. ”Bagi kami, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sudah final.”

Dalam Munas di Situbondo tahun 1984, NU menerima asas tunggal Pancasila karena prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial, semua sila itu dinilai sejalan dengan ajaran Islam. ”Dalam kehidupan, Islam mestinya jadi inspirasi, bukan aturan yang memaksa orang tunduk. Agama itu dihayati, diamalkan, bukan diformalisasikan.”

Kenapa masih muncul radikalisme, bahkan terorisme atas nama Islam?

Kehidupan dan diri kita itu milik Allah. Tak boleh kita bunuh diri, apalagi membuat orang lain cacat, bahkan mati. Itu dosa besar, masuk neraka.

Teroris itu meledakkan bom itu karena faktor teologi, yaitu pemahaman Islam yang salah. Bukan karena faktor ekonomi, kebodohan, atau tertindas. Lihat saja, pengebom itu orang berpendidikan, bahkan sebagian mapan.

Mereka mendapatkan pengetahuan dari gurunya tentang Islam secara sepotong-sepotong. Ketika membaca ayat waqotilu al-ladzina kafaru (dan bunuhlah mereka yang kafir), mereka langsung mau bunuh orang kafir. Orang kafir itu siapa? Ingat, kaum Yahudi dan Kristen itu termasuk ahlul kitab. Orang kafir itu kelompok paganis, penyembah berhala, yang musyrik dan berbuat jahat.

Kenapa kelompok radikal terus bermunculan?

Kelompok radikal itu ada pada setiap agama, peradaban, dan sepanjang sejarah manusia. Sekarang mungkin mereka muncul akibat hilangnya rasa percaya pada kelompok-kelompok agama formal. Lalu, datang guru yang menjerumuskan anak muda yang lagi puber dan kritis yang tak puas dengan keadaan.

Mereka mengecap semua kelompok luar sebagai zalim dan kafir. Lantas diperintahkan berjihad dengan membunuh lawan itu dan dijanjikan masuk surga dan dapat bidadari.

Padahal, jihad itu membangun sesuatu bagi kebaikan banyak orang, seperti membangun jalan, jembatan, atau rumah sakit.

Bagaimana mengantisipasi kekerasan atas nama Islam itu?

Kita harus berdialog dengan kelompok-kelompok itu. Kita tekankan bahwa dakwah perlu dilakukan dengan hikmah, bijaksana, lembut, simpatik. Kami sudah mengimbau semua imam masjid untuk berkhotbah bahwa teror itu bukan ajaran Islam. Teror itu sama sekali bukan jihad!

 

 

Tumbuh dari Pesantren

Said Aqil Siroj termasuk intelektual Muslim yang tumbuh dan besar di lingkungan pesantren. Dari situ, dia mengenyam tradisi belajar dari para kiai dan menghargai khazanah ilmu klasik.

Selepas belajar Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ein, di Kempek, Cirebon, Jawa Barat, tahun 1965, dia pergi ke Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Di sana, dia masuk Pesantren Hidayatul Mubtadien selama lima tahun. Tiga tahun berikutnya, dia hijrah ke Yogyakarta untuk menimba ilmu di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak.

”Pondok pesantren punya sistem, guru, dan metode pendidikan mandiri. Kami belajar dengan dorongan moral. Semua santri diperlakukan adil,” katanya.

Berbekal pendidikan pesantren dari Tanah Air, tahun 1980, Aqil meneruskan studi ke Mekkah. Jenjang sarjana diambil dari Jurusan Ushuluddin dan Dakwah dari Universitas King Abdul Aziz. Dia kemudian pindah ke Universitas Ummu al-Qura, Mekkah, untuk menempuh jenjang master Jurusan Perbandingan Agama, kemudian doktor Jurusan Perbandingan Agama. Disertasinya, ”Hubungan antara Allah dan Alam; Perspektif Tasawwuf Falsafi”.

Total 13 tahun dia bermukim di Mekkah. Selain mempelajari bidang studi di kampus, dia juga tertarik dengan ilmu sejarah dan menghafal Al Quran. ”Lingkungan Arab membuat saya lebih mantap lagi belajar bahasa Arab, termasuk menghafal puisi-puisi yang sulit.”

Pulang ke Indonesia, tahun 1994, Aqil masuk kepengurusan PBNU di bawah Ketua Umum KH Abdurrahman Wahid. Dia dipercaya menjadi wakil katib ‘aam. Saat Gus Dur terpilih jadi presiden, tahun 1999, dia mengganti posisinya sebagai anggota MPR Fraksi Utusan Golongan dari NU, sampai tahun 2004.

Di luar organisasi NU, dia juga mengajar di beberapa perguruan tinggi, seperti pascasarjana UIN Jakarta. Dia menulis sejumlah artikel dan banyak memberi ceramah tentang keislaman dan keindonesiaan. Untuk apa semua kesibukan itu?

”Kondisi Islam di Indonesia masih jauh dari tamaddun (peradaban) yang ideal. Saya ikut terus berjuang mewujudkan cita-cita itu,” katanya bersemangat. (nmp/iam)

Minggu, 23 Agustus 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: