Toleransi Sebagai Habitus dan Wujud Iman

Setiap tahun, di bulan Ramadhan, gereja paroki HKY memasang spanduk simpatik berisi ucapan selamat menunaikan ibadah puasa maupun ucapan selamat Idul Fitri. Spanduk ucapan itu juga ditujukan untuk hari besar agama lain. Spanduk yang dipajang di depan pagar itu dilihat setiap hari oleh semua pengguna jalan yang melintas di depan gereja.

Meski sederhana, spanduk itu mencerminkan toleransi yang tinggi dari umat Katolik terhadap umat beragama lain.

Toleransi berasal dari kata “toleran” yang berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya.

Selanjutnya, kata “toleransi” juga berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan (Kamus Umum Bahasa Indonesia).

Dalam hubungannya dengan agama dan kepercayaan, toleransi berarti menghargai, membiarkan, membolehkan kepercayaan, agama yang berbeda itu tetap ada, walaupun berbeda dengan agama dan kepercayaan seseorang.

Toleransi tidak berarti bahwa seseorang harus melepaskan kepercayaannya atau ajaran agamanya karena berbeda dengan yang lain, tetapi mengizinkan perbedaan itu tetap ada. Toleransi menjadi jalan terciptanya kebebasan beragama, apabila kata tersebut diterapkan pada orang pertama, orang kedua, ketiga dan seterusnya. Artinya, pada waktu seseorang ingin menggunakan hak kebebasannya, ia harus terlebih dulu bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya telah melaksanakan kewajiban untuk menghormati kebebasan orang lain?” Dengan demikian, setiap orang akan melaksanakan kebebasannya dengan bertanggung jawab.

Toleransi tidak harus dipraktikkan dengan terpaksa karena tidak ada jalan lain untuk mempertahankan keharmonisan. Toleransi harus diterima dan dipraktikkan sebagai sikap prinsipiil.

Toleransi tidak sama dengan sikap tak acuh, seolah semua agama dianggap sama. Sebaliknya, toleransi bertolak dari kebenaran agamanya sendiri, tetapi serentak membuka diri untuk kebenaran yang lebih kaya.

Tolerasi haruslah menjadi sebuah nilai dan kebajikan yang berlaku bagi semua orang. Toleransi tidak dapat dibangun diatas sebuah peraturan “hitam-putih” yang formal semata. Tidak boleh ada kekuatan mayoritas yang membuat “peraturan” tentang toleransi karena di dalam peraturan itu pasti ada sebuah kepentingan. Jika itu dilakukan, toleransi justru cenderung menimbulkan intoleransi atau biasa kita kenal dengan toleransi politis.

Banyak pihak percaya bahwa toleransi akan semakin kuat dengan adanya dialog dan relasi yang akrab. Konsep yang lain mengatakan bahwa toleransi dapat berjalan dengan sendirinya lewat kerja-kerja bersama antarkelompok atau antaragama. Artinya, dengan kerja bersama, masing-masing kelompok menanggalkan sementara identitas mereka dan terlibat dalam tujuan yang sama dengan kelompok yang lain.

Tapi, di atas semua itu, toleransi haruslah menjadi habitus baru dan perwujudan iman yang nyata bagi umat Katolik. Dengan begitu kita turut menciptakan perdamaian dan kesejatian hidup sebagai umat beriman dan warga negara.

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10)

 

Yudhit Ciphardian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: