Membangun Aspirasi dari Pedesaan

Tokoh Muda Inspiratif Kompas #3

Gung Tri  – Aktivis Sosial

 

Dalam Pemilihan Umum Legislatif 2009, I Gusti Agung Putri Astrid Kartika, yang sehari-hari dipanggil Gung Tri, dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di wilayah pemilihan di Bali, tanah leluhurnya. Namun, wanita berambut ikal ini gagal meraih kursi.

Namun, pengalamannya berkampanye selama delapan bulan di pedesaan di Bali menumbuhkan sejuta inspirasi dan panggilan baru untuk tanah Bali.

Kampanye pemilu menambah banyak pengalaman dahsyat. Ia berdialog langsung dengan rakyat pedesaan. Ia seperti jadi bisa melihat kehendak hati rakyat yang terbuka tanpa tirai.

”Bagi orang-orang di kota, pemilihan umum dan kampanye adalah suatu yang sangat terkait dengan kursi, jabatan, atau kekuasaan. Bagi orang-orang desa adalah sebuah kesempatan untuk berteriak sekeras mungkin tentang apa yang ada di dalam hati mereka,” ujar Gung Tri.

Gung Tri mendengarkan suara keinginan rakyat kecil yang selama ini jauh dari akses kekuasaan di kelurahan, kecamatan, kabupaten, kota, provinsi, dan Jakarta. ”Kampanye dan pemilu adalah kesempatan bagi orang kecil mengartikulasikan sebebas-bebasnya mengenai hak-hak mereka yang selama ini terabaikan atau termatikan,” ujarnya.

Ketika ditemui Kompas di Bali, Gung Tri sedang berada di dalam sebuah perpustakaan pemerintah daerah di Jalan Teuku Umar, Denpasar. Ia sedang mempelajari pembuatan perpustakaan baru di beberapa tempat di wilayah pedesaan.

Ia juga membantu pembuatan peraturan dasa dan kecamatan mengenai sumber daya alam, perairan, dan pengelolaan wilayah pesisir. Sumbangsih kecilnya untuk pembangunan karakter bangsa.

Apakah benar sebagian besar kaum muda bangsa ini apolitis?

Saya ingin melihat dari sisi lain. Di pedesaan kampanye pemilihan umum merupakan bagian dari perjuangan politik. Antusiasme masyarakat desa, termasuk kaum mudanya, di Bali sangat tinggi.

Dengan adanya kampanye, masyarakat desa punya kesempatan untuk menegakkan hak-hak mereka. Misalnya di Desa Trunyan, Kabupaten Bangli, dalam masa kampanye terus-menerus minta kepada para calon anggota legislatif, calon bupati, calon gubernur, dan calon presiden untuk mengembalikan sumber-sumber atau mata air di desa mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka terhadap air. Dalam kaitan ini, antusiasme masyarakat terhadap politik sangat kental.

Jadi, ada beda penghayatan masyarakat kota dan desa terhadap politik?

Mungkin ada. Di desa masyarakat melihat politik sebagai kesempatan dan membangun tonggak hak-hak dasar mereka. Di kota, masyarakat, terutama elite politik, secara spontan dilihat sebagai tindakan buang waktu dan uang.

Bagaimana pandangan Anda tentang minat masyarakat muda umumnya terhadap politik kalau tidak dilihat bukan dari perbedaan kawasan desa dan kota?

Saya melihat cara pandang kaum muda terhadap politik saat ini punya perbedaan dengan masa lalu ketika negeri ini akan merdeka sampai setelah beberapa tahun merdeka. Pandangan kaum muda terhadap politik sekarang semakin berkaitan dengan interaksinya dengan dunia luar atau pandangannya secara global.

Pandangan dan penghayatan politik kaum muda sekarang punya warna pengaruh global di bidang lingkungan hidup, kemajuan dunia informasi, bidang hak asasi manusia, perubahan iklim, dan seterusnya.

Lalu, bagaimana pembinaan atau pembangunan politik kaum muda Indonesia terkait dengan masalah global ini?

Jangan dengan cara kuno. Konstelasi global harus dilihat secara cerdas. Pembangunan atau penguatan nation jangan hanya bersifat teritorial atau geografis seperti sekarang. Memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini bukan hanya dengan pendekatan keamanan teritorial dan geografis saja. Pendekatan budaya perlu dilakukan. Budaya di sini terkait dengan akal budi dan seluruh daya manusia untuk berbuat atau berkarya bagi manusia.

Konkretnya itu bagaimana?

Di percaturan internasional atau konstelasi global, kita bisa menggunakan para tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri sebagai PR atau public relation. Mereka bisa menjadi duta bangsa yang memengaruhi konstelasi global.

Yang bisa menjadi duta bangsa bukan hanya penari atau ratu kecantikan. Jadi, pengiriman TKI ke luar negeri jangan seperti mengirim barang dagangan saja, yakni barang yang bisa dipakai sekehendak pembelinya di luar negeri. Para TKI di luar negeri harus bisa menjadi penentu dalam percaturan politik di negeri orang.

Untuk bisa begitu, tentu perlu ada peningkatan kualitas sumber daya manusia dari TKI ?

Benar. Paling tidak, para TKI harus ditingkatkan kemampuan berbahasa Inggris, bahasa asing lainnya, juga kemampuan lainnya. Jadi, TKI di luar negeri jangan hanya jadi alat saja, jadi pekerja kasar. India, China, Korea Selatan, Filipina, dan beberapa negara lain bisa melakukan hal itu. Para tenaga kerja India, China, dan Korea Selatan bisa menguasai berbagai laboratorium ilmu pengetahuan, teknologi, dan pusat informasi di Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya.

Selain meningkatkan kualitas TKI, apa lagi yang bisa digunakan untuk membangun bangsa ini?

Memperkuat nasionalisme, kebangsaan kita mungkin memang perlu diartikulasikan kembali. Mendapat hadiah di tingkat olimpiade mungkin juga bisa memperkuat pembangunan nation kita.

Pemerintah kita dalam pembangunan nation itu sekarang bagaimana?

Saya rasa masih kuno, masih banyak melakukan pendekatan keamanan, teritorial, dan geografis. Terhadap percaturan global masih hanyut pada kehendak negara lain karena tidak kuat dalam bargaining.

Bagaimana peran pemerintah agar kaum muda bisa memperoleh akses menimba ilmu di kancah global?

Peranan pemerintah penting dan sangat diharapkan untuk kaum muda untuk meraih ilmu pengetahuan di negara-negara maju. Akan tetapi, kini tindakan pemerintah dalam hal ini tidak maksimal atau bahkan bisa dibilang sangat minimal bila dibandingkan pemerintahan 20 atau 30 tahun lalu.

Kaum muda, terutama dari wilayah pedesaan, sangat membutuhkan bantuan pemerintah dalam menimba ilmu pengetahuan. Saat ini pendidikan formal di Indonesia sangat mahal. Ini membuat kemampuan kaum muda dari wilayah pedesaan sulit untuk bersaing di dunia kerja, apalagi di luar negeri.

Saat ini pemerintah boleh dibilang membiarkan sebagian besar kaum muda mencari ilmu sendiri dan mencari pekerjaan, termasuk di luar negeri.

Membangun atau mendirikan perpustakaan di pedesaan yang Anda lakukan dalam rangka membantu kaum muda pedesaan mendapatkan ilmu?

Benar. Ini hal kecil. Tapi, dari pengalaman kampanye, saya ingin berbuat sesuatu. Saya tidak ingin setelah jumpa mereka lari pergi tanpa kembali. Saya tidak ingin dibilang datang ke pedesaan hanya mau cari suara, lalu pergi. Lebih dari itu, perjumpaan langsung dengan mereka di pedesaan menumbuhkan sesuatu dalam diri saya, panggilan hidup untuk bangsa ini.

Tolong jelaskan tentang perpustakaan yang Anda mau dirikan?

Di wilayah perkotaan, banyak orang menimba ilmu lewat Google. Di pedesaan, itu jauh dari jangkauan mereka. Banyak buku beredar dan diterbitkan di Indonesia. Akan tetapi, distribusinya belum menjangkau mereka di desa. Dari pengalaman saya berkampanye, mereka punya antusiasme membaca buku. Akan tetapi, distribusi belum bagus. Saya merasa banyak punya buku, maka saya ingin berikan kepada mereka. Saya menghubungi banyak teman untuk bersama-sama membuat perpustakaan di beberapa wilayah di Bali.

Pengalaman menarik Anda dalam kampanye pemilu kemarin?

Kita bisa menjumpai banyak orang lewat HP, komputer, alat komunikasi lainnya, televisi, radio, dan seterusnya. Akan tetapi, perjumpaan langsung tetap mahapenting dalam membangun bangsa ini.

Oleh : J Osdar / Kompas, Jumat, 30 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: