Menjaga Benteng Terakhir

Tokoh Muda Inspiratif Kompas #18

Yusuf Chudlori – Pengasuh Pesantren di Magelang

 

Nama Yusuf Chudlori, yang akrab dipanggil Gus Yusuf, mulai banyak dikenal setelah berkiprah di Partai Kebangkitan Bangsa. Pengasuh Asrama Perguruan Islam Pondok Pesantren Salaafi Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, itu pernah menduduki jabatan Ketua Dewan Pengurus Wilayah PKB Jawa Tengah. Anita Yossihara

Namun, baginya, berpolitik bukanlah tujuan untuk meraih kekuasaan. Kiprahnya di PKB merupakan panggilan agar bisa berbuat sesuatu untuk bangsa dan masyarakat.

Pascaperpecahan di tubuh PKB, Gus Yusuf memilih kembali ke masyarakat. Ia mulai aktif di sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Salah satunya adalah Komunitas Gerakan Anti Narkoba dan Zat Aditif yang bergerak dalam upaya pemberantasan penyalahgunaan narkoba.

Gus Yusuf juga aktif dalam gerakan budaya, dengan bergabung dalam Komunitas Lima Gunung, yakni komunitas seniman Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Menoreh, dan Andong. Di kalangan tokoh-tokoh Komunitas Lima Gunung, ia memang paling muda dibandingkan dengan tokoh-tokoh senior seperti seniman Sitras Anjilin, Sutanto Mendut, dan Romo V Kirjito.

”Tetapi, ia tokoh muda yang potensial ke depan karena mendalami dan menyebarkan visi KH Abdurrahman Wahid tentang pluralisme hingga ke tingkat bawah,” kata Romo Kirjito mengomentari ketokohan Gus Yusuf.

   Hari-harinya diisi dengan mengajar di pondok pesantren, menyalurkan ilmu yang ditimbanya dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Setiap hari dia juga harus menerima tamu yang datang untuk berkonsultasi, meminta pendapat, dan semacamnya.

Anak dari ulama karismatis Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Haji Chudlori, itu pun cukup dikenal di kalangan muda dan mahasiswa. Ia sering terlibat dalam forum-forum diskusi dengan kaum muda NU Jateng.

Ayah tiga anak itu juga mendirikan radio sebagai sarana untuk menyampaikan pandangan serta pemikirannya. Dia juga tidak enggan memenuhi undangan dakwah dari kampung ke kampung. Sekolah-sekolah juga mulai menjadi lahan garapannya.

Ia mengingatkan umat agar kembali kepada tradisi yang menjadi benteng terakhir untuk menangkal pengaruh liberalisme sekaligus radikalisme yang tumbuh subur pascareformasi.

Berikut petikan wawancara bersama Gus Yusuf di kediamannya di Tegalrejo, Magelang, Senin (9/11).

Masalah apa yang saat ini dianggap paling mengganggu bangsa ini?

Sejak reformasi ini, banyak persoalan yang muncul akibat kebebasan yang ada. Reformasi masih dimaknai oleh sebagian masyarakat sebagai kebebasan semata. Padahal, makna reformasi adalah bagaimana kita harus menata, membenahi kembali kondisi bangsa.

Era kebebasan ini memang ada sisi maslahat (manfaat) dan juga sisi mudarat (kerugian)- nya. Maslahatnya, kita bisa mengakses informasi dari mana pun dengan bebas dan menyampaikan sesuatu secara bebas.

Kiai-kiai, misalnya, bisa ceramah di mana pun dengan bebas. Dulu, tahun 1990-an, mau ceramah saja sulit, harus izin ke koramil (komando rayon militer), ke polsek (kepolisian sektor). Bahkan, kiai harus mengikuti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), haru punya SIM, surat izin mengaji, dan sebagainya. Alhamdulillah, sekarang kita sudah leluasa untuk berceramah.

Tetapi, di sisi lain ada mudaratnya. Kebebasan ini juga membukakan pintu masuk kepada paham-paham atau aliran-aliran pemikiran yang bersifat impor, dari luar negeri. Kalau menengok terlalu ke kiri, akan menjadi liberal. Sebaliknya, kalau terlalu menengok ke kanan, akan menjadi radikal.

Kalau di Islam, paham-paham radikal dari Timur Tengah mulai masuk. Aliran itu memang sudah ada sejak Orde Baru, tetapi tidak leluasa. Pascareformasi mereka secara terbuka mencari jemaahnya ke masjid-masjid sampai ke desa-desa.

Ini bukan hanya soal akidah, tetapi juga sudah menyangkut masalah kebangsaan. Karena paham radikal itu masuk bukan hanya membawa akidah, tetapi juga kepentingan kekuasaan. Mereka sudah mulai mengutak- atik NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan mengampanyekan pembentukan pemerintahan Islam di muka bumi. Sekarang ini (gerakannya) sangat terasa di masyarakat karena mulai masuk ke masjid- masjid, ke kelompok-kelompok pengajian, bahkan sekolah-sekolah.

Mereka mengklaim, Islam itu Arab. Kelompok ini punya militansi, ilmu, juga dana. Dana ini yang berbahaya karena mereka bersedia membantu biaya pembangunan masjid hingga 50 persen. Tapi, syaratnya, masjid tidak boleh dipasang beduk, tidak boleh buat baca Al Barzanzi (kitab berisi syair puji-pujian kepada Rasul Muhammad SAW dan Allah SWT).

Persoalannya tidak berhenti pada soal akidah maupun tradisi karena fenomena itu juga membuat masyarakat terbelah. Bulan puasa yang lalu ada perpecahan di sebuah desa yang berjarak 15 kilometer dari sini (kediaman Gus Yusuf). Ada sebuah masjid yang kiainya kebetulan pergi ke Malaysia karena alasan ekonomi. Sewaktu si kiai pulang ke desa, masjid sudah dibangun megah dengan bantuan dana tadi.

Ada acara buka bersama dan makanan disajikan di dalam masjid. Si kiai itu mengingatkan, mbok makanannya ditata di serambi saja. Peringatan itu membuat marah sekelompok masyarakat yang sudah dipengaruhi kelompok dengan paham baru itu. Sementara si kiai bersikukuh karena masjid dibangun di atas tanah wakaf keluarganya.

Sekelompok masyarakat itu lalu keluar dari masjid, mendirikan tenda untuk beribadah di lapangan. Mereka potong saluran air PAM dan aliran listrik, masjid dirusak. Masalah ini sampai ditangani polisi karena sudah masuk kriminal.

Itulah dampak yang paling dikhawatirkan karena memecah belah masyarakat. Itu membahayakan karena di Jateng dan DIY saja masjid yang dibangun dengan dana dari Timur Tengah itu sudah ratusan.

Kemudian di dunia pendidikan sekarang ini banyak sekolah baru yang berlabelkan Islam dengan kualitas dan sarana yang bagus. Awalnya saya ikut bangga, tetapi persoalan baru muncul kemudian setelah mengetahui pola pendidikannya.

Lebaran yang lalu saya kedatangan tamu suami istri. Mereka bercerita telah memasukkan anaknya ke sekolah full day Islam favorit karena keduanya sibuk bekerja. Harapannya, di sekolah itu anak bisa memperoleh ilmu umum dan ilmu agama.

Tetapi, kemudian mereka kaget melihat perkembangan sang anak. Saat jalan-jalan dan melihat KFC, anaknya yang masih kelas II SD berkata, ”Itu restoran milik Amerika, kafir. Kita enggak boleh, Pak, jajan di situ.”

Tamu saya itu kaget, kok anak kelas II SD sudah bisa mengafir-ngafirkan, artinya sudah ditanamkan kebencian kepada orang lain sejak kecil. Itu kan berbahaya.

Puncaknya, saat tamu saya datang ke sekolah, dia memuji fasilitas sekolah yang lengkap. Tapi dia kaget saat mengetahui di sekolah itu tidak ada tiang bendera. Lalu, bertanyalah dia kepada guru di sana, mengapa tidak ada tiang bendera. Jawabannya cukup mengagetkan, karena, katanya, menghormat bendera itu salah satu kemusyrikan.

Lalu, saya juga didatangi guru BP (bimbingan dan penyuluhan) sebuah SMA favorit. Dia mengeluh karena ada satu anak didiknya yang berprestasi dan terpilih menjadi anggota paskibraka di kabupaten memilih mundur karena tak mau menghormat bendera.

Padahal, menurut saya, menghormat bendera adalah bentuk penghormatan kepada pejuang, termasuk para kiai yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Selain itu, Islam juga mengajarkan hizbul wathon minal iman, cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman.

Lalu, apa dampak luas dari adanya fenomena tersebut?

Kalau melihat itu semua, wajar bila terorisme tumbuh subur. Tak mengherankan jika sekolah dan masjid menjadi ajang rekrutmen teroris karena sejak kecil sudah ditanamkan kebencian kepada orang lain, bahkan sesama Muslim, dan kebencian kepada bangsanya sendiri.

Yang harus dilakukan negara?

Negara harus tegas. Seharusnya negara tidak membiarkan kelompok tertentu mengampanyekan pembentukan pemerintahan Islam dunia. Departemen Pendidikan Nasional juga harus lebih ketat menyeleksi dan mengevaluasi sistem serta pola pendidikan di sekolah-sekolah.

Pemerintah juga harus serius dalam penegakan hukum. Kegagalan pemerintah dalam menangani kasus yang sekarang ini mencuat (KPK vs Polri) akan dijadikan alasan pembenar oleh kelompok itu bahwa yang paling benar adalah hukum yang sesuai dengan syariat Islam.

Pemberantasan teroris juga jangan setengah-setengah, jangan hanya menangkap si A, si B, tapi berantas dari akar-akarnya. Salah satunya, dengan meningkatkan derajat perekonomian masyarakat karena kelompok itu memiliki dana yang digunakan untuk membantu dan memengaruhi masyarakat.

Lalu, bagaimana masyarakat harus bersikap?

Masyarakat harus diingatkan untuk kembali ke Pancasila. Pancasila itu merupakan bingkai yang paling ideal untuk menangkal paham-paham itu. Pancasila juga mencerminkan nilai-nilai keislaman, seperti keadilan, kesamaan derajat, kemanusiaan, dan ketuhanan. Meski Islam mayoritas, umat agama lain tetap harus dihormati.

Selain itu, masyarakat juga harus kembali ke tradisi karena tradisi itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tradisi berkumpul dengan sesama warga, seperti kenduren dan semacamnya, harus terus dihidupkan. Karena jika suatu permukiman itu kering, tidak ada tradisi berkumpul, akan menjadi lahan empuk bagi tumbuhnya gerakan radikal dan terorisme. Tradisi itulah yang merupakan benteng lokal untuk menangkal tumbuh suburnya radikalisme.

Oleh : Anita Yossihara / Kompas, Selasa, 17 November 2009

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: