Pedoman Memilih Bagi Umat

Pilwali Surabaya 2010

Yang cukup sulit dalam setiap pemilihan pejabat publik bukanlah memilih “siapa”, melainkan “bagaimana” cara memilih yang tepat. Hendaknya umat Katolik menggunakan hak pilihnya secara aktif, jujur, cerdas dan kritis. Jika kita memilih berdasarkan selera pribadi, janji-janji atau ketertarikan personal, pilihan itu belum cukup untuk disebut bertanggung jawab. Untuk itu kita perlu sungguh-sungguh mencermati, menganalisis, menimbang dengan kritis dengan diterangi hati nurani yang dibimbing oleh roh kudus.

Sebelum menganalisis para calon, baiklah kita perhatikan sepuluh kebutuhan warga kota Surabaya yang ditulis oleh seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat, Sirikit Syah dalam opininya di Jawa Pos Februari lalu.

Sepuluh kebutuhan itu adalah : (1) penyediaan angkutan kota yang lebih nyaman dan aman, (2) dihentikannya pembangunan mal dan plaza, setidaknya dalam periode lima tahun, (3) diperbaikinya kondisi pasar-pasar tradisio-nal, (4) gratis biaya sekolah hingga SMP/ 9 tahun, (5) pembangunan pusat kesenian/kebudayaan, (6) kemudahan prosedur dan biaya ekspor agar neraca perdagangan positif, diikuti penyerapan tenaga kerja yang positif pula, (7) peningkatan layanan kesehatan untuk warga kurang mampu, (8) perhatian pada golongan lanjut usia, (9) peningkatan sarana jalan, perbaikan gorong-gorong, pencegahan banjir, dan (10) digalakkannya perolehan pajak yang disertai kejujuran petugas pajak.

Kesepuluh kebutuhan ini mungkin belum dapat mewakili seluruh kebutuhan umat Katolik, tapi setidaknya dapat membantu untuk menentukan pilihan.

Pertimbangan selanjutnya adalah menggunakan metode skoring yang dikeluarkan oleh Komisi Kerawam Keuskupan Surabaya (lihat box). Pedoman ini juga disebarkan kepada umat saat acara Bincang Pagi yang diadakan oleh Sie Kerawam Paroki St Yakobus, Minggu, 9 Mei lalu. Pedoman yang berupa nilai-nilai ini dapat digunakan jika umat masih ragu dalam menetapkan pilihan. Pedoman ini dapat diterapkan dengan menelusuri rekam jejak (track record) para calon yang dapat diketahui dari pemberitaan media massa maupun sumber-sumber lainnya.

Dua pedoman yang diperkenalkan di atas (menganalisis kebutuhan dan menganalisis rekam jejak) adalah sarana untuk melatih kita menjadi pemilih yang kritis, cerdas dan bertanggung jawab. Maka, tidak menjadi soal apakah calon yang kita pilih menang atau kalah. Karena sesungguhnya kemenangan sejati adalah pada proses demokratisasi yang berwujud pada partisipasi warga. Kemenangan sejati adalah milik warga yang dengan sadar turut berpartisipasi dan dengan kritis menentukan pilihan.

Seperti kita ketahui bersama, banyak pandangan yang mengatakan bahwa demokrasi kita masih prosedural dan formal. Demokrasi kita belum menjadi gaya hidup dan budaya bersama. Setelah 12 tahun reformasi, kita masih berada di antara dua persimpangan yaitu demokrasi prosedural dan demokrasi kultural.

Tengoklah peristiwa terakhir tentang kerusuhan di kantor DPRD Mojokerto yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang yang kecewa karena calon bupati yang didukungnya tidak lolos seleksi pencalonan. Hal ini tidak akan terjadi jika demokrasi kultural (yang menjadi budaya dan gaya hidup) sudah terwujud. Dengan demokrasi kultural, warga akan menghormati kompetisi dengan tertib dan menjunjung tinggi prinsip “siap menang-siap kalah”. Dengan demokrasi kultural pula, warga akan menjauhi cara-cara kekerasan dan menyenangi cara-cara persuasif dan dialog dalam menyelesaikan masalah.

Salah satu “pekerjaan rumah” dalam mewujudkan demokrasi kultural adalah pendidikan politik bagi warga. Tanpa perlu menunggu partai politik dan lembaga lain melakukannya, Komisi Kerawam Keuskupan dan di paroki-paroki mengemban pekerjaan penting ini demi terwujudnya hakikat politik sejati yaitu kesejahteraan bersama.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: