Media Gereja dan Budaya Membaca

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2009 masih berada di peringkat 111 dari 182 negara. IPM yang rutin diterbitkan oleh UNDP (United Nations Development Programme) sebagai badan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membidangi pembangunan ini, mengukur tingkat pembangunan manusia di setiap negara dalam berbagai dimensi.

Selain dimensi ekonomi, politik, dan sosial, IPM juga mengukur dimensi budaya. Dalam IPM, budaya membaca diukur lewat tingkat keaksaraan dan melek huruf orang berumur 15 tahun ke atas. Indonesia berada di peringkat 61, di bawah China dan Thailand dan sedikit di atas Singapura dan Malaysia.

(http://hdrstats.undp.org)

Sementara itu, sebuah lembaga internasional lain yaitu Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), lewat program andalannya yaitu Programme for International Student Assessment (PISA), memberikan informasi menarik tentang tingkat kemajuan sebuah negara. Salah satu tolok ukur kemajuan sebuah negara adalah seberapa tinggi tingkat budaya membaca masyarakat di negara tersebut. Menurut data OECD, negara dengan kemampuan membaca tertinggi (saat diukur pada 2006-2007), adalah Finlandia disusul Korea Selatan, Kanada dan Australia. Sedangkan lima negara dengan skor terendah adalah Tunisia, Indonesia, Meksiko, Brazil dan Serbia.

(http://dedehsh.multiply.com/journal/item/79)

Pada tahun 2000 organisasi International Educational Achievement (IEA) pernah melakukan penelitian tentang minat baca di kalangan anak di dunia. Dalam penelitan ini IEA menempatkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia di urutan ke-38 dari 39 negara. Atau terendah di antara negara-negara ASEAN. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti.

Fakta ini menjadi tantangan bagi kita untuk turut andil dalam upaya menumbuhkan budaya baca di sekitar kita. Komunitas lain yang juga bertanggung jawab dalam meningkatkan minat baca adalah keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.

Ada banyak masalah dengan minat baca di setiap komunitas. Di komunitas keluarga, misalnya, acara televisi dan game Play Station (PS) menjadi pesaing utama minat baca di kalangan anak-anak dan orang dewasa. Di komunitas sekolah, perpustakaan sebagai sarana membaca belum mendapatkan prioritas yang cukup. Fasilitas-fasilitas umum untuk membaca pun, seperti perpustakaan kota, juga sepi pengunjung.

Selain masih kentalnya budaya lisan dan budaya visual (menonton) bagi masyarakat kita, faktor keterbatasan buku bacaan yang baik dan menarik serta keterbatasan penyebaran juga menjadi titik pemicu rendahnya minat baca bangsa Indonesia

Di kalangan umat Katolik, salah satu masalah yang menjadi sorotan adalah rendahnya budaya membaca Kitab Suci. Sekalipun Konsili Vatikan II (Dei Verbum 25) sudah membuka jalan agar umat dapat membaca Kitab Suci dan menganjurkan agar umat sering membacanya, kitab yang satu ini masih asing bagi kehidupan umat. Sebagian umat Katolik hanya membacanya dalam pertemuan lingkungan, pada Bulan Kitab Suci, pada masa Adven, atau pada masa APP. Sebagian lagi membacanya karena bertanggung jawab untuk memimpin pendalaman iman atau memberi renungan.

Rendahnya budaya baca ini berhubungan langsung dengan tingkat pengetahuan dan pendidikan. Masyarakat yang kurang mendapat akses informasi dan pengetahuan akan tertinggal dalam banyak hal.

Empat tahun newsletter

Saat digagas dan dirancang pertama kali pada Agustus 2006, newsletter mingguan ini memang dikehendaki sebagai -sesuai mottonya- “media informasi, komunikasi dan pendidikan iman umat”. Diharapkan, media yang kini menginjak edisi ke-200 ini diisi dengan bacaan-bacaan yang bagus dan bermanfaat untuk menambah wawasan, informasi dan mempertebal iman umat.

Bacaan yang ditampilkan di halaman depan newsletter ini dapat berupa macam-macam topik. Kadangkala berupa berita kegiatan paroki, kadangkala juga menampilkan topik sosial, politik, ekonomi, budaya. Tapi lebih banyak porsinya untuk topik seputar iman Katolik.

Hal ini, tak lain dimaksudkan sebagai upaya untuk menumbuhkan budaya baca di kalangan umat paroki HKY dan umat di paroki lain yang mendapatkan newsletter ini.

Maksud yang lebih besar daripada itu adalah upaya untuk menumbuhkan kesadaran umat tentang keberadaannya sebagai umat beriman dan warga negara, lengkap dengan kompleksitas masalahnya. Dengan kesadaran itu, umat akan terus bertumbuh imannya sesuai dengan cita-cita bersama dalam Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2009-2019, yaitu “Gereja Keuskupan Surabaya sebagai persekutuan murid-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner.”

Demikianlah. Semoga newsletter ini dapat bermanfaat banyak bagi umat, karena memang hanya itulah alasan penerbitan media ini. Kritik dan saran untuk perbaikan kualitas dapat disampaikan lewat sekretariat paroki atau lewat email di newsletterhky@yahoo.co.id.

Yudhit Ciphardian

6 Juni 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: