Standart Baru Dalam Stand-up Comedy Show

Setelah menyaksikan stand-up comedy show bertajuk Mesakke Bangsaku yang dipersembahkan oleh komedian Pandji Pragiwaksono (@pandji), saya berkeyakinan bahwa kesenian ber-genre komedi yang booming di Indonesia sejak 2011 ini akan menjadi medium baru bagi upaya-upaya penyadaran dan pendidikan politik untuk orang-orang muda di Indonesia.

Ketika jalur dakwah dan jalur pendidikan formal seperti menemui jalan buntu dan membentur tembok besar bernama pragmatisme, individualisme dan moderisme, stand-up comedy yang diusung Pandji menerobos kebuntuan dan menembus alam pikir orang-orang muda yang di jaman sekarang cenderung apatis terhadap masalah-masalah sosial, politik dan kebudayaan.

Mesakke Bangsaku ini seperti “jalan ketiga” atau “jalan alternatif” atau shortcut yang sangat efektif dan tepat sasaran namun masih sepi pegiatnya. Saya menduga, Mesakke Bangsaku ini adalah perpaduan antara keprihatinan seorang Pandji terhadap bangsa ini (terbaca dari karyanya berupa lagu dan buku-buku) dan kecerdikannya untuk memilih memakai stand-up comedy sebagai medium penyadaran. Perpaduan itu, ditambah dengan kecintaannya pada kesenian ini (terbaca dari beberapa postingnya di pandji.com) menghasilkan sebuah show yang (setidaknya bagi saya) membekas hingga beberapa hari kemudian.

Digelar di auditorium RRI Surabaya pada Sabtu 5 Oktober 2013, tour Mesakke Bangsaku di kota ke-6 Surabaya ini dihadiri sekitar 400an orang muda Surabaya dan sekitarnya.

Di Surabaya, Mesakke Bangsaku dibuka oleh comic pembuka lokal, Andre Firdiansyah, akrab dipanggil Bajul (@bajoel_official). Nama sebagus “Andre” cuma dapat nickname Bajul (buaya). Harusnya, bapaknya si Andre ini dulu beri saja nama anaknya Bajul Firdiansyah supaya dapat nickname Andre.

Bajul sangat kuat di act-out (teknik dalam stand-up comedy untuk memperagakan sebuah adegan yang menjadi joke). Materi dia bawakan dengan lancar tanpa tersendat dan act-outnya menghasilkan tawa penonton. Bukti kalau Bajul sangat kuat di act-out terlihat di foto ini.

DSC03390

Diksi (pilihan kata) berbahasa Jawa juga menjadi salah satu kekuatan Bajul untuk memetik tawa penonton. Opener lokal yang memakai joke dengan diksi bahasa setempat pasti akan menuai banyak tawa. Itulah gunanya opener lokal : membuka show dengan nuansa proximity (kedekatan) antara comic dan penonton serta menghadirkan nuansa “ini acara kota kita” bagi penonton.

Malam itu Andre, eh, Bajul pecah.

Salah satu yang istimewa dari tour Mesakke Bangsaku ini selain adanya dua sponsor besar SmartFren sebagai sponsor utama (@smartfrenworld) dan Citilink (belum ada tour stand-up comedy di Indonesia yang memakai sponsor) adalah komitmen Pandji untuk turut mengangkat nama comic-comic muda, baik yang jebolan kompetisi di KompasTV, maupun mereka yang besar di komunitas mereka masing-masing. Di 13 kota yang didatangi Mesakke Bangsaku, Pandji membawa serta 13 comic pembuka (opener tamu) yang tidak terlalu kondang tapi penuh bakat dan potensi untuk membesarkan kesenian ini.

Mungkin Pandji mengajak mereka karena ingin menambah daftar comic yang mengidolakan dia. J

Opener tamu di Surabaya adalah comic juara ke-4 dari kompetisi SUCI season 3 KompasTV, Alphi (@alphisugoi). Pembawaannya tenang, santai tapi kelihatan grogi. Berbeda dengan Bajul, Alphi nyaris tanpa act-out. Dengan postur yang kegemukan, saya pasti akan langsung pegel linu membayangkan dia act-out. Sepanjang durasi 10 menit, Alphi hanya berdiri di sekitar tempat dia berdiri seperti terlihat dalam foto ini.

DSC03393Meski dia mengaku sebagai anak basket saya tidak gampang percaya. Mungkin dia hanya basket ketika sedang tidak nyemil. Saya lebih suka dia memakai persona (karakter comic) sebagai anak mama. Dan terbukti, joke-joke dengan tema anak mama itu mendapat banyak sekali tawa besar. Penonton setuju dan rela tertawa dengan joke soal anak mama itu.

Malam itu Alphi sangat menghibur. Chubby-chubby.

Berikut sedikit catatan saya untuk dua orang opener di atas. Saya tidak tahu apakah Pandji etis atau tidak untuk meminta openernya membawakan sedikit (tidak perlu semua) joke dengan tema Mesakke Bangsaku. Tapi menurut saya, akan lebih baik kalau para opener Pandji juga ikut mendukung tema yang diusung. Selain untuk mendukung tema, para opener juga akan makin ditempa dengan latihan keras untuk menulis materi tematis sesuai yang dikehendaki penampil utama mereka. Dengan begitu, show akan benar-benar utuh

Tapi itu pertimbangan saya. Kalau tidak cocok, gunakan timbangan lainnya.

Malam itu Pandji perform selama kurang lebih 1,5 jam dengan menampilkan beberapa kekuatan utamanya ketika stand-up : delivery yang hangat, ekspresif dan public speaking yang bagus. Bagus sekali. Karena keterampilannya public speaking, penonton fokus mendengarkan dia berbicara dan tersentak kaget karena di tengah-tengah pembicaraan satu arah itu muncul joke.

Teman-teman anggota komunitas @Stand-upIndo_Sby atau setidaknya saya sendiri, mengakui kehebatan public speaking itu. Pantas saja kalau Pandji sampai membuat program kelas Public Speaking untuk umum yang diberi nama Airborn (baca selengkapnya di http://pandji.com/airborn-2013/)

DSC03439

Soal ekspresi atau mimik wajah, Pandji memang spesial. Beberapa jokenya langsung meledak hanya dengan memasang mimik wajah, tanpa kata-kata. Ekspresi “kasih putih” milik Glen Fredly mungkin hanya bisa dilakukan Pandji. Saya tergelak lama waktu bit tentang “tanya apa kabar waktu clubbing

Khusus bit ini, tertawa saya eskalatif (meningkat semakin keras).

Oh ya, bit soal anak-anak belajar ngaji dengan TOA masjid itu juga lucu sekali. Tapi saya lebih memperhatikan teknik Pandji menggunakan mikrofone yang jarang saya lihat di comic-comic lain. Teman-teman sesama comic pasti memperhatikan teknik itu dan semoga menginspirasi mereka juga.

Deliverynya santai tapi powerfull, tidak intimidatif seperti Cak Lontong atau Setiawan Yogy. Pembawaannya hangat dan penampilannya charming serta tampan (Kalimat terakhir itu saya tulis karena saya juga ingin menang).

Yang paling spesial dari malam itu ada dua : premis yang megah dan keberanian beropini.

Premis pertama : Mayoritas belagu pada minoritas, minoritasnya merasa minder di hadapan mayoritas.

Dari satu premis ini, saking megahnya, tercipta beberapa bit yang panjang dan lucu semua. Tidak cuma lucu, muncul juga beberapa data dan pengetahuan baru yang membuat penonton mengangguk-angguk setuju.

Premis kedua : Orang Indonesia sibuk mengejar prestasi akademik daripada menemukan minat dan bakatnya untuk sukses di masa depan. Di bagian ini, Pandji menceritakan pengalamannya selama sekolah dan memakai tagline yang lucu : “dari dulu saya visioner”.

Premis ketiga : Politik mengatur semua aspek kehidupan berbangsa kita. Tidak peduli sama politik sama dengan tidak peduli pada kehidupan bersama kita. Beberapa kelucuan muncul dari premis yang “menampar” banyak orang muda ini.

DSC03440

Hal istimewa kedua adalah keberanian Pandji untuk mulai beropini dan mempengaruhi audience untuk percaya pada apa yang dikatakannya. Sejak reformasi bergulir, sudah banyak aktivis yang terkenal dengan keberanian mereka menyerukan kebenaran atau memprotes ketidakdilan. Nah, di wilayah stand-up comedy Pandji menjadi salah satu aktornya. Setahu saya ada beberapa comic yang terkenal kritis, misalnya Sammy (@notaslimboy), Insan Nur Akbar (@akbar__), Adriano Qalbi (@adrianoqalbi), Pangeran Siahaan (@pangeransiahaan), Kukuh Adi (@kukuhya).  Di antara jajaran comic-comic itu Pandji kuat dengan kekhasan dan kelengkapannya : edukatif, lucu dan menghibur.

Bagaimana dia beropini dengan berani perihal calon-calon presiden 2014 yang bermasalah membukakan mata audience dan (minimal) membuat mereka berpikir ulang tentang siapa yang hendak mereka percayai sebagai presiden berikutnya. Petunjuk praktisnya tentang bagaimana cara memilih capres yang benar juga sangat bermanfaat.  Saya hampir yakin, kharisma Pandji akan membuat audience mematuhi apa yang dianjurkan olehnya.

Di titik inilah saya menyamakan Mesakke Bangsaku dengan orasi politik di jalananan. Bedanya, ini orasi yang komedik.

Oh ya, improvisasi komedi Pandji dengan cara riffing (berinteraksi) dengan penonton juga patut di contoh comic-comic yang baru menekuni stand-up comedy seperti saya. Yang istimewa, riffing yang kelihatannya alami itu -saya yakin- sebenarnya dipersiapkan dengan serius demi “mengistirahatkan” penonton dari topik-topik yang berat. Beruntung malam itu riffing Pandji terhadap salah satu penonton berhasil dengan sukses gara-gara Ponds Pure White. J

Singkatnya, show Pandji malam itu seperti meletakkan standart baru dalam dunia stand-up comedy. Sebuah ambang batas yang akan dikejar dan menjadi mimpi semua comic di Indonesia. Baik dalam hal manajemen penyelenggaraan tour maupun materi yang disampaikan. Karena itu, seiring waktu, saya optimis stand-up comedy akan menemukan bentuk aslinya sebagai medium penyadaran yang lucu dan menghibur.

Malam itu saya orgasme tertawa dan itu dilakukan oleh seorang cowok. Idih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: